Usia saya masih tujuh tahun atau mungkin delapan tahun saat
mendengar nama kota itu pertama kali. Mesir. Bapak membangun imajinasiku
tentang kota pusat peradaban dunia itu melalui sebuah dongeng pandek sehabis
makan malam di ruang tamu. Ruang tamu kami begitu sederhana, hanya ada kursi
dan meja plastik seadanya dan lemari buku yang membatasi antara ruang tamu
dengan ruang makan. Tetapi dongeng-dongeng Bapak selalu membuat ruang mungil
itu menjelma menjadi kota Alexandria di satu hari dan Kairo di hari-hari yang
lain. Dongeng-dongeng Bapak bukanlah dongeng biasa karena ia selalu menjadi
pelaku utama dalam cerita.
Kadang-kadang Bapak berkisah tentang batu-batu Piramida yang luar
biasa besarnya membuat saya membayangkan bagaimana orang-orang di zaman Fir’aun
mengangkatnya. Atau cerita tentang kapal-kapal di atas Nil yang diisi dengan
penari perut. Terkadang pula Bapak bercerita tentang sulitnya meraih gelar di
Universitas al-Azhar dan saya sungguh bangga karena Bapak meraih gelar
masternya di sana.
Pada akhirnya, Mesir dan kota-kota tua di dalamnya tumbuh bersama
mimpi-mimpi seorang Mayyadah kecil. Gurun pasir, sungai Nil, hujan debu,
universitas tertua di dunia, gedung-gedung tua peninggalan kolonial Perancis di
Tahrir, masjid-masjid penuh sejarah, dan kecantikan Cleopatra yang diwarisi
perempuan pribumi Mesir adalah hal-hal yang melekat dalam alam imajinasi
kanak-kanak saya hingga remaja.


































