Tampilkan postingan dengan label true story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label true story. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Oktober 2013

Sebuah Penghargaan di Penghujung Tahun

Tanggal 30 September kemarin saya resmi diwisuda. Sebenarnya jarak antara seminar tutup dengan wisuda sekitar satu bulan. Duh, sempat maju-mundur males ngikutin wisuda. Pertama, saya *uhuk* gak biasa pake kebaya atau tepatnya ga punya kebaya. Satu2nya kebaya yg saya punya tuh pas akad nikah hihih. Kedua *uhuk again* klo pake kebaya berarti pake high heels atau minimal wedges dong yaa, masa' pake sepatu sport? :d

Tapi, teman2 seangkatan unjuk rasa. Ga punya solidaritas-lah. Ini momen sekali seumur hiduplah. Entar ga seru-lah pas foto bareng. Dan lah lah yg akhirnya membuat saya ikutan wisuda juga. Setelah kesana-kemari panik nyiapin baju, akhirnya minjem sama tante yg untungnya bodinya sama dg bodi saya haha. Dan malam itu juga saya dan adik meluncur ke pusat perbelanjaan. Apalagi klo bukan...nyari sepatu? Ckckck. Udah 27 taon masih juga panik mslh kostum *sigh*

Trus...ga disangka-sangka, ga ada angin topan maupun tornado...*uhuk again, kali ini lbh kenceng*, ternyata saya dinobatkan jadi magister terbaik! Wahhhhh!  Pas naik ke depan, suerr, kaki saya seperti berjalan di atas kerikil yg tajam. Takut plus khawatir kalo saya terpeleset. *Another Sigh*

Maka seorg kakak kelas pun memulai mengumumkan berita bahagia ini ke seluruh fesbuker. Jadilah berita yg tadinya pengen dipendam aja itu meluas kemana2, ke grup almamater, ke grup temen2 Kairo, lalu mencapai puncaknya saat seorg senior di media Sulsel mempublishnya ke portal berita. Akhirnya ketahuan juga di temen2 di twitter.

Nih, screen captnya:

Sumber foto klik di sini

Ala kulli hal, saya bersyukur karna byk jg temen2 bilang klo kisah saya memberi semangat dan isnpirasi ke mereka:)
*Sebenarnya sih, merekalah yg menyemangati saya selama ini* :)

Tetap semangat ya semuaaa! Luv u!




Jumat, 03 Mei 2013

The Only Moment

Saat panitia pembuatan video dokumenter riwayat hidup almarhum Bapak meminta data2 ke saya, sungguh saya terkejut. Bukan karena saya tdk rela perjalanan hidup Bapak diekspos, tapi karena saya baru sadar kalau kebersamaan saya dg Bapak tidak banyak yg tersimpan dlm foto. Saya membongkar album, file2 di laptop, tapi hasilnya saya hanya mendapatkan dua foto yg benar2 merekam kebersamaan saya dg beliau :(

Pertama foto keluarga kami. Foto itu adl satu-satunya foto keluarga kami. Mama, Bapak, saya dan kelima adik2 saya berkumpul lengkap di hari ultah pernikahan Bapak dan Mama. Saat itu saya msh kelas satu Tsanawiyah klo gak salah ingat. Setelah itu kami terpisah oleh ruang. Ada yg studi ke Gontor, Jogja, Bandung, Mesir, dan di Sulawesi tentunya. Bahkan saat hari pernikahan saya pun kami tak bisa berkumpul :( Sedihnya lagi, kami baru bisa berkumpul lagi setelah Bapak tiada, di hari kematiannya.



Foto Keluarga 'M7W'

Foto kebersamaan saya dan Bapak berikutnya adalah foto jadul ini. Saya msh jd 'anak tunggal' di sini. Baju yg saya pakai itu baju jahitan Mama. Entah berapa umur saya di foto ini. Dan saya juga tak pernah menanyakannya. Foto ini bisa dikatakan harta karun saya. Selebihnya saya tak punya foto berdua dg Bapak.   Sungguh itu saya sesali. Setiap waktu saya menjepret momen2 narsis saya di social media, tapi momen bersama Bapak saya tak pnh merekamnnya. 

Me and Dad
Saya berharap teman2 yg msh punya keluarga lengkap belajar dr pengalaman ini. Sejatinya, kenangan akan abadi di hati yg mencintai, tetapi dunia terkadang menagih 'bukti'. Sebuah potret, seusang apapun, selalu akan membangkitkan kenangan dan ribuan cerita :)

Rabu, 20 Februari 2013

Hal-hal Lucu di Balik Bukuku


Ada banyak cerita di balik buku Mata Air 100 Juta dan Membaca Semesta. Dari cerita mengharu-biru hingga menggelikan. Kalo cerita yang mengharu-biru, sudahlah, malas saya cerita di sini. Nanti langit biru malah tambah biru (gak nyambung! haha)

Baiklah, sekarang saya mau bongkar rahasia menggelikan di balik terbitnya kedua buku saya. Sebelumnya tarik nafas dong. Oke, bagus! Eits, hembuskan dulu hahaha. Yap, mulai!

Hal pertama yang menggelitik saya adalah tingkah para fans. Pantaskah saya mengistilahkan sahabat pembaca setia saya sebagai fans? Sahabat di Mayyadah Friendpage pasti gak keberatan dunk soalnya Maya kan ga kelebihan berat hehe. Yang keberatan angkat kaki, yang setuju lanjut baca! Awalnya ada yang sms tiap menit, ada yg telpon tiap menjelang tidur. Sampai-sampai saya merinding, membayangkan dia membayangkan saya sebelum tidurnya hiiii. Kata-katanya ada yang sekedar curhat, ada juga yang lebay seperti:
“Kak Maya yang baik. Selama ini adik merasa kesepian dan membutuhkan banyak kasih-sayang. Bolehkah adik mengangkat Kak Maya menjadi kakakku?”

TidddaaaaaKKK. Adik kandung saya aja udah lima! seharusnya saya jawab tidak. Tapi saya malah ketik reply: “Thanks. Cerita aja klo ada masalah.” Akhirnya masalah demi masalah memenuhi ponsel saya. Dari masalah yang gak ada hubungannya dgn dunia menulis, atau masalah seperti:

“Mbak May, berdosakah saya jika menatap terus wajah dia di fesbuk?”
Yah, masalah berdosanya tanya sama Pak kiai lah, jgn sama saya haha (kidding!). Ada juga yang histeris di inbox, dilengkapi kalimat-kalimat aduhai:
“Betapa beruntungnya saya ketemu Kaka, kok bisa sih ada makhluk sehebat kaka?”

Senin, 24 Desember 2012

My Trip To Brunei (Part 4): Keajaiban Kecil Itu...

Keajaiban kecil? Hmm...boleh saya sebut demikian? Ada banyak peristiwa penting dalam hidup seseorang, termasuk saya. Di berbagai tempat dan daerah baru yg saya datangi, tak jarang hal-hal yang tak disangka2 tiba-tiba hadir melengkapi kesempurnaan sebuah pengalaman hidup yang berharga. Dan kali ini...it's Brunei! Negara mungil ini mungkin tlah memberikan saya pengalaman wisata di tempat-tempat indah atau kulinernya, namun bukan itu yang saya sebut keajaiban.

Saya sangat beruntung bisa bertamu ke rumah2 teman Brunei di sana (mereka jg punya tradisi open house pasca ied). Di antara mereka ada yg bahkan punya pembantu dari negri kita. Di antara mereka ada yg bicara panjang-lebar ttg how crowdednya Jakarta, ibukota yg pnh mereka kunjungi. Adapula yang membagi rasa penasarannya ttg betapa luasnya Indonesia. Dan suatu ketika, di sebuah rumah salah seorang teman namanya Kak Hajar, saya bertemu dengan sebuah keluarga, dengan seorang ibu yang menyambut lalu memandang wajah saya lekat-lekat. 

"Benar, tak salah lagi, kamu pasti putrinya Ustaz Wahab!". Saya tersenyum dan mengangguk mendengar ucapan pertama ibu itu. Saya mencium tangannya dengan takzim. Ibu itu adalah ibu kandung Kak Hajar. Namanya Hj. Noor. Mengapa beliau mengenal saya, itulah inti cerita ini.

Selasa, 13 Maret 2012

Goodbye My Nightmare!

Ini adalah rangkaian mimpi buruk dari sisi gelap kehidupanku di masa lalu. Percayalah, setiap orang hebat yang kau temui juga pernah bermimpi buruk, mungkin lebih buruk lagi. Tak pernah ada terang tanpa ada gelap.
Aku menginjak kelas satu SD saat rentetan mimpi buruk itu dimulai. Aku belum bisa menulis, belum bisa membaca. Aku pemalu sekali dan sangat tidak percaya diri. Badanku yang kecil dan kurus seakan menguatkan kenyataan jika aku tak bisa berbuat apa-apa jika orang lain menyakitiku. Hari itu guruku menulis besar-besar kata “delapan” di papan tulis. Karena guruku  killer sekali, dadaku berdegup kencang saat aku disuruh mengeja kata itu. Jari-jariku gemetar dan berkeringat.
De tambah e tambah el…del…tambah a…dela…
Aku mengejanya dalam hati, dengan sangat lambat.
Aku lama sekali mengejanya karena ketakutan hingga akhirnya aku tak berkata apa-apa. Tak mampu menjawab pertanyaan guruku. Dan saat temanku yang lain mengeja kata itu dengan suara yang begitu lantang, aku malu sekali. Dia mengejanya dengan benar dan begitu berani. Masih kuingat dan tetap kuingat selamanya saat guruku menatapku lekat-lekat lalu berkata: “itu dibaca delapan, bodoh!”
Bodoh, rasanya sangat bodoh waktu itu. Seluruh isi kelas menertawakanku habis-habisan. Hingga saat penerimaan raporku yang pertama, aku menangis karena rangking empat belas. Aku bertanya kepada kedua orangtuaku: “apa dulu Bapak dan Mama pernah rangking empat belas dan tidak bisa mengeja kata ‘delapan’ di papan tulis?” Kenyataannya aku bertambah malu saat tahu jawabannya. Orangtuaku bukanlah orang bodoh. Dan seharusnya aku juga begitu.

Selasa, 16 Maret 2010

Muqsit in Memory...

Dulu, Maya sempat jadi guru SD en guru TK di Jogja. Meski jam kuliah Maya sebenarnya full, tapi karena Maya seneng bgt sama dunia anak-anak, akhirnya tawaran itu Maya terima. Lagipula saya cuma ngajar pagi, dan bukan guru dlm artian yg resmi2 amat. hhhehe.

Saat itu, yang Maya ajar adalah kelas satu. Anak-anak yang masih polos, nakal, dan terkadang punya kemauan yang aneh-aneh. Terkadang mereka ngambek, tiba-tiba mau pulang ke rumah, ada yang mendadak kebelet pipis, naik ke atas meja, membuat Maya jadi pusing sendiri. Tapi, Maya juga senang. Melihat mereka tersenyum, berbicara, mengeja huruf, bersedih dan menangis, membuat Maya seakan melihat dunia kecil yang begitu penuh warna.

Suatu hari, seorang anak baru datang. Namanya Muqsit.

Matanya bulat, bulu matanya lentik membuat mata besarnya terlihat menonjol. Anaknya keras kepala dan selalu mau jadi yang dituakan di kelas padahal dia paling muda hahah.

Muqsit jarang tertawa kecuali saat menertawakan kejelekan dan kesialan teman-temannya. Dan satu hal lagi yang membuat guru-guru menyerah, Muqsit sangat keras kepala. Disuruh ini disuruh itu dia tidak mau, semuanya terserah dia mau bagaimana.

Senin, 15 Februari 2010

MATA AIR 100 JUTA

Saya bersyukur menjadi salah satu saksi sejarah perjalanan sebuah pesantren di atas bukit itu. Bukit yang dulunya belantara, tempat bercokolnya para dedemit, telah berubah menjadi satu surga menuntut ilmu. Bukit itu bernama Tonrong-e, sebagian santri menyebutnya sebagai Penjara Suci.

Saya tak akan bercerita panjang lebar tentang kenangan-kenangan bersamanya, atau tentang ribuan memori tertinggal tentangnya. Saya hanya akan bercerita satu hal, tentang satu keajaiban yang membuat airmata penderitaan mengering dan doa-doa panjang terkabul sudah. Keajaiban itu bernama Mata Air 100 Juta yang membuat banyak orang bertanya-tanya tentangnya.

Saya masih ingat, saat itu saya masih kecil sekali, dengan tangan yang hampir putus dan kaki telanjang yang mengejang, saya harus mengangkat air dari sumber yang jauh. Saya harus menempuh jalan berupa batu yang licin dan tajam untuk sampai ke lembah yang berada di bawah rumah. Keluarga saya tinggal di bukit sebelah atas, di depan mesjid, dimana air tak mampu mengalir sampai ke rumah. Sudah berkali-kali mesin dinamo air diganti karena terbakar, dan berkali-kali itu pula saya dan adik-adik terpaksa turun lembah, mengambil air sambil malu-malu karena di sumur itu yang ada hanya para santri putra. Kadang pula para santri yang membawa jerigen-jerigen air ke rumah ketika berangkat ke mesjid dan rasanya senang sekali melihat bak mandi di rumah kami penuh.