Tampilkan postingan dengan label Obat Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Obat Hati. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Juli 2014

Dear Anak Muda!

Dear Anak Muda!
Tahukah kamu,
tadi malam dan juga malam-malam sebelumnya
aku melihat bukan kamu yang tersisa di sana
berdiri, mengisi barisan hingga rakaat tarwih ke 20
tetapi bapak-bapak tua
ibu-ibu dengan anaknya
beberapa di antara mereka bahkan tertatih bangkit dari sujud dan ruku'nya

Dear Anak Muda!
Kamu di mana dan kemana aja?
Jumlah rakaat memang bukanlah ukuran ketakwaan
jumlah salat memang bukanlah jaminan iman
tetapi
kesempurnaan fisikmu, mudanya usiamu, segarnya pikiranmu
adalah amanah
dan caramu mensyukurinya adalah ukuran
jika bukan untuk ibadah, lantas kamu gunakan untuk apa?
jika jumlah salat aja kamu tak bisa taklukkan
bagaimana dengan jumlah kemalasanmu?

Dear Anak Muda!
di luar sana aku mendapati kamu
berputar-putar tanpa rasa kantuk
bersama deru motor, kepul kopi, asap rokok,
dan dialog-dialog kosong

Dear Anak Muda!
Aku kini bertanya-tanya
siapakah sebenarnya yang muda itu
usia ataukah jiwa?


(Surat Terbuka untuk Diriku dari Hatiku)

Minggu, 13 Oktober 2013

Tentang Hati

Hati manusia yg lemah, kadang membuatnya menjadi lebih kejam kepada sesama (Gu Family Book)
Ya, benar. Kata-kata itu benar. Buktinya?
Kadang kita ingin menghargai, namun mulut malah mencaci
Kadang kita ingin mencintai, namun kita berakhir melukai
Kadang kita ingin berterima kasih, tapi kata-kata tertahan oleh gengsi dan sangsi
Kadang kita ingin memahami, tapi kita selalu merasa hebat sendiri
Kadang kita ingin memaafkan, tapi kita masih mencari alasan untuk membenci

Hati kita lemah
dan itu membuat kita tak berdaya

Sabtu, 17 Agustus 2013

My Favorite Quotes from Aleph

Usia semakin bertambah dan hari-hari rasanya semakin sibuk-menyibukkan saja. Dulu saya bs melahap buku bacaan tiap hari, bahkan tiga kali sehari. Dulu,rutinitas membaca saya seperti makan. Ada makanan pembuka, inti, dan penutup. Tapi sekarang, satu buku per bulan sudah jarang (jarang khatam).

Kemarin sempat punya waktu (menculik waktu tepatnya) ke toko buku. Karena waktu sempit, gak sempat milih-milih. Jadi, saya menjatuhkan pilihan ke penulis favorit: Paulo Coelho. Kali ini buku yg saya baca adalah ALEPH. Terkejut, krn saya bisa menuntaskannya hingga ke halamn terakhir.

Ini beberapa kutipan favorit saya dlm buku Aleph. Semoga bermanfaat yaa!

Rabu, 24 April 2013

Memaafkan adalah Bagian dari Cinta

Saya selalu percaya bahwa memaafkan adalah bagian dari cinta. Seorang ibu, bagaimanapun bejatnya anaknya, ia akan selalu tersenyum tatkala anaknya kembali. Seorang kekasih, bagaimanapun pahitnya ia dilukai, ia akan selalu memafkan.

Saya selalu percaya itu, hingga kamu datang dan membuat segalanya berbeda...
(Anggap saja ini fiksi)

Selasa, 23 April 2013

Pesan Kakek

Pagi itu saya menyempatkan diri menjenguknya. Seorang lelaki berusia senja. Dengan tongkat di tangan dan jalan yang sudah harus dipapah. Dia kakek saya. Dulu pekerjaannya adalah sebagai imam kampung. Tetapi setelah terserang stroke, kakek harus bedrest total dan rutin check up ke dokter.

Setiap kali saya menjenguk kakek, selalu ada hikmah kehidupan yang saya petik dari ucapannya. Seperti hari itu, kakek berkata dengan suara serak:
Jangan bosan yaa, jangan bosan memberi kebaikan. Karena hanya dengan itu kamu bisa mendapatkan rahmat Tuhan
Duhai, kata-kata sederhana itu seakan-akan mengisi kekosongan jiwaku akhir-akhir ini yg sibuk akan duniawi. Makasih kakek :)

Jumat, 08 Oktober 2010

Rapuh

Akhir-akhir, inbox efbi maya mendadak berubah menjadi ruang konsultasi. Mulai dari konsul cinta, pernikahan, sampe perawatan anak hahah. Dari sononya Maya emang suka bgt dijadiin tempat curhat, dijadiin tempat penampungan emosi, kecuali penampungan sampah kwkwk.

Hmm...
suatu hari, inboxku kembali terisi. Kali ini seorang pria, pdhl jarang loh ada pria mau curhat! tak tanggung2 pula, ia curhat masalah cintanya:

Minggu, 11 Juli 2010

Bukan Masalah Siapa Yang Paling Terang

twinkle twinkle little star
how i wonder what you are
up above the world so high
like a diamond in the sky
twinkle twinkle little star
how i wonder what you are


Bukan masalah siapa yang paling terang.
Apakah tak kau lihat bintang itu? Dia terlihat sangat-sangat kecil, bahkan nyaris tak terlihat. Tapi ia memiliki sinar yang asli, tak dibuat-buat. Berbeda dengan rembulan itu, tampak begitu besar, begitu benderang, padahal sinarnya imitasi, cahaya pinjaman semata yang ia punyai.

Bukan masalah siapa yang paling benderang.
Akan tetapi, siapa yang benar-benar memancarkan terangnya sendiri, maka ia adalah sebenar-benarnya "bintang"!

Rabu, 17 Februari 2010

Dunia Cyber Vs Dunia Nyata

Meski dunia Blogger hanya sebatas dunia cyber, dunia non-realita, namun bagaimanapun kita yang berada di belakangnya adalah manusia-manusia nyata. Saya kadang bertanya-tanya, apakah dunia cyber ini juga membutuhkan pertanggungjawaban pelakunya?

Sejatinya dunia Maya hanyalah sebuah dunia kecil dibanding dunia nyata kita, namun yang terjadi, terkadang saya misalnya, terlalu asyik dalam dunia blogging, searching, browsing, dan tanpa saya sadari kewajiban dunia nyata saya terbengkalai.

Selain itu, tak jarang pula saya berfikir, apakah komentar2 yang saya tinggalkan di blog teman-teman tak membekaskan rasa kesal atau rasa tak enak bagi yang membacanya? Atau apakah pendapat saya atas tulisan orang lain malah membuat pemilik blog itu tersinggung? Atau adakah janji-janji berupa follow blog, pasang link, dan semisalnya yang pernah saya ucapkan lalu tak saya tepati?

Satu hal lagi yang saya ingin perbaiki, setidaknya untuk saat ini, saya ingin mengatur waktu dengan baik. Misalnya, saya berusaha beres-beres rumah, ngerjain tugas kuliah dulu, lalu setelah semua urusan proiritas selesai, saya akan refreshing ke dunia cyber. Contoh lainnya, saya akan meninggalkan layar PC jika orang-orang di dunia nyata memerlukan bantuan atau menuntut kewajiban saya.


Meski bukan dunia nyata, setidaknya, kita tetap menjaga image positif diri kita sebagaimana orang-orang mengenal kita di dunia real. Jika di dunia nyata kita berusaha mematuhi etika dan menunaikan hak serta kewajiban terhadap orang lain, lalu kenapa kita tidak membawa kebiasaan itu ke dunia cyber?


Nah, bagaimana dengan teman-teman? Apakah dunia cyber telah mengalihkan dunia nyata kalian?


                            



Sabtu, 14 November 2009

SESUATU YANG DISUKAI TIDAK SELALU BENAR

Saya mendpatkan kisah ini di sebuah FB milik teman. Cerita sederhana tapi penuh dgn renungan-renungan kehidupan. Berikut kisahnya:

Sekelompok anak kecil sedang asyik bermain di dekat jalur kereta api (KA). Jalur pertama adalah jalur kereta yang masih aktif dilalui KA, sedangkan jalur kedua sudah tidak aktif lagi alias tidak terpakai. Hanya ada seorang anak yang bermain di jalur yang TIDAK aktif tersebut, teman-temannya yg lain memilih bermain di jalur yang aktif. Saat mereka sedang asyik bermain, tiba-tiba sebuah KA meluncur dengan cepatnya. Seandainya saja, ANDA  kebetulan sedang  berada di depan panel persimpangan pengatur jalur  kereta, maka apa yang akan anda lakukan?

Apakah anda akan memindahkan jalur kereta tersebut ke jalur tdak aktif sehingga hanya SATU anak yang menjadi korban? Ataukah anda membiarkan kereta itu tetap pada jalurnya yang aktif? Kira-kira apa jawaban anda? Yuk, kita intip jawaban yang tepat utk kasus ini MySpace

Mungkin sebagian besar teman-teman akan memilih memindahkan jalur kereta dan mengorbankan satu anak itu. Pilihan ini kedengarannya memang rasional karena lebih baik mengorbankan SATU orang dibanding mengorbankan org banyak. Namun....kita mungkin tak menyadari satu hal! SATU anak itu berada di jalur yang benar yaitu jalur yang tidak aktif dan itulah tempat bermain yg aman. Selain itu, adilkah jika ia harus menjadi korban karena kecerobohan teman2nya yang lain?MySpace

Dilema seperti ini seringkali kita temukan di kehidupan sehari-hari. Di kantor publik, di panggung politik, dan di arena demokrasi yang kadang mengorbankan MINORITAS demi kepentingan MAYORITAS. PAdahal belum tentu yang MAYORITAS itu berada di pihak yang benar, tidak sedikit dari mereka adalah org2 yang ceroboh, bodoh, dan jelek hatinya.

Kembali ke kisah kereta tadi. Jika ANDA memilih tidak memindahkan jalur kereta, maka kemungkinan besar anak-anak yang sedang bermain di jalur aktif itu akan segera berpindah ke jalur yang aman karena mendengar
kereta datang. Namun, jika jalur kereta dipindahkan, maka satu anak itu tidak akan berlari ke jalur lain karena jalur yang ditempatinya memang jalur yang tidak aktif.

Ada hal yang perlu dipikirkan lagi, yaitu alasan ketidakaktifan jalur itu. jalur tidak aktif biasanya dikarenakan adanya kerusakan atau sudah tidak layak lagi untuk dilalui KA. Jadi, jika anda bersikeras memindahkan jalur, maka bagaimana nasib kereta dan penumpangnya kelak? Bisa jadi hal itu akan membahayakan keselamatan seluruh penumpang, padahal tadinya anda tak ingin mengorbankan org banyak bukan?

Begitulah! Kadangkala kita harus mengambil keputusan tersulit dalam setiap masalah kehidupan. Sesuatu yang BENAR kadang tidak selalu disukai. Dan sesuatu yg DISUKAI tidak selamanya benar.

JAdi, berhati-hatilah mengambil keputusanMySpace




Minggu, 25 Oktober 2009

PELANGI PERBEDAAN


Andai pelangi hanya satu warna, apakah akan tetap indah di mata pengagumnya? Andai langit hanya menerima bintang tanpa ada bulan, mentari, atau awan, apakah tetap menjadi langit yang menakjubkan? Dan andai di dunia ini hanya ada manusia yang bermata sipit dan berkulit putih, apakah dunia ini tak berubah menjemukan?

Di balik keanekaragaman warna manusia itu ada sebuah hikmah yang bernama “rahmat”. Perbedaan yang tidak membuat satu lingkaran ekslusif nan picik. Perbedaan yang tidak membuat manusia terkotak-kotakkan. Perbedaan yang dapat menyulap warna-warna menjadi rangkaian pelangi dinamika yang indah sebagaimana alam mengajarkan kita. Prularitas yang menyalurkan energi dan sinergi positif, menyempurnakan kekurangan dengan memetik kelebihan masing-masing, bukan malah sebaliknya.

Sebenarnya berbeda itu indah, teman! Bukankah manusia diciptakan bersuku-suku, berbeda ras dan wataknya agar muncul sikap terbuka untuk saling mengenal dan menjadi berbudaya? Itu adalah sebuah fitrah yang tak terbantahkan, mates!

Sayangnya, manusia dengan segala khilaf dan lemahnya sering terjebak ke dalam jurang egoisme, sukuisme dan embel-embelnya. Ketika amarah menjadi raja, manusia tak lebih dari seutas pita koyak tanpa warna. Persatuan hancur berantakan hanya dengan satu tikaman provokasi dan adu domba (dari manusia akhirnya jadi domba hina, aduh!).

Alam yang begitu beragam juga mengalami berbagai perubahan baik melalui bencana tak henti-henti ataupun evolusi, seperti halnya kondisi masyarakat majemuk yang tak sepi konflik. Kita hanya butuh kembali bercermin pada Sang Garuda yang selama ini sekedar pajangan di dinding-dinding. Lihatlah cengkramannya pada pita bertuliskan Bhineka Tunggal Ika itu! Cengkraman yang kuat dan tak mudah goyah. Jangan-jangan kita telah lupa kalau kepalanya menoleh ke kanan. Ke kanan dan bukan ke kiri! Ya, kita hanya perlu belajar untuk melihat sisi-sisi yang baik (positif) saja...semoga!


Selasa, 08 September 2009

Manusia-Manusia Blogger

Ada dunia lain disini (pastinya bukan dunia ghaib hahah). Ada manusia-manusia yang berbeda di dunia virtual ini. Boleh jadi semua yang kau temui adalah MAYA, tapi tidak manusianya, mereka bukan MAYA, mereka ADA dan NYATA.

Seperti dalam realita, manusia-manusia inipun memiliki warnanya masing-masing. Ada hitam, ada putih, ada dollar, ada rupiah (kok???)). Ada yang mengais rezeki namun tetap rendah hati, tukar link bagi mereka adalah silaturrahmi sekaligus sumber datangnya rezeki.

Ada pula yang bertopeng "page rank mania", mencari teman hanya sekedar menaikkan page rank. Setiap hari dia akan berkata "i luv u, ALEXA...". Linknya ngotot dipasang, jgn harap dia memasang linkmu.

Lain lagi si penulis sejati. Penanya terus mengukir kata demi kata, kalimat tanpa henti, meski tak satupun datang memberi komentar. Dia acuh, baginya blog adalah dunia ideallismenya untuk mengukir sejarah lewat tulisan-tulisannya.

Tak sedikit pula yang menjadi penyair virtual. Cinta tak sampai, cinta bersemi, cinta jarak jauh, cinta ini, cinta itu,,,,(ternyata cinta itu bnyk ya). semuanya diluapkan, menganak sungai seperti tangisnya di depan monitor.

Aku baru tersadar, seperti baru saja terjadi, aku bertanya apakah aku termasuk diantaranya???
Manusia-Manusia Blogger, jangan buatku hilang dalam realita....

Sabtu, 05 September 2009

Kata temanku "Bijaksananya dia cuma ke orang lain"

Hari ini saya lagi-lagi mendapat pelajaran berharga. Tadi siang saya buka puasa bersama teman2 almamater sekaligus ikut acara kajian. Sambil makan, kta bercerita kesana-kemari, dari tema Z ke tema A. Sampai kemudian saya menanyakan seorang teman yang tak hadir saat itu.



"Kayaknya si Ardi sibuk banget beribadah ya, sampe gak ikut kajian, aku liat status di YMnya klo bukan "lagi ngaji", "Ramadhan jgn dilewatkan begitu saja", "tarwih dulu", pasti bunyinya yg alim2 gt deh."


"Gak juga, tadi dia malah di depan kompi,chat terus kerjaannya" jawab teman serumahnya.


"Tadarrusnya sambil di depan kompi kali," timpalku berhusnuzhan. Tanpa sadar temanku itu ceplos dengan raut muka menyindir dan keluarlah kalimat itu, kalimat yang nantinya membuatku membisu.


"Dia mah kalo ke org lain bijaksana gt deh kesannya, padahal ke dirinya sendiri kagak..."


Aduh, temanku ini kalau berbicara sukanya langsung-langsung saja. Dia itu memang ceplos orangnya, blak2an, kadang tanpa sengaja menyindir atau mengejek orang lain. Tapi aku tahu orangnya baik, karena dia tidak keberatan kalau harus dikritik balik.


Aku mengulang kalimatnya barusan dalam hati. Dia bijaksananya cuman ke orang lain...


Mendadak aku terdiam lama, menekuni kata2 itu, mengembalikannya pada diriku. Jangan-jangan selama ini aku juga begitu, bijaksana hanya kepada orang lain, sedangkan aku sendiri tak mampu melaksanakannya.

Tak sedikit temanku yang selalu menjadikanku "konsultan" alias "langganan curhat" jika mereka ada masalah. Di dunia cyber pun seperti itu, tak jarang teman2 yang bahkan sama sekali belum ketemu langsung orangnya, sudah tak merasa aneh jika harus mengutarakannya uneg-unegnya ke aku. Rata-rata mereka bilang, aku orangnya enak diajak curhatlah, pendengar setialah, bahkan ada yang sampai sekarang selalu memanggilku dengan panggilan "Bunda" wuiihhh...(Bunda peri kali maksudnya hehe)


Ah, andai mereka tahu kalau aku tak sebijaksana itu. Aku mungkin saja memberikan mereka solusi, menyegarkan kembali hari-hari mereka dengan satu kalimat nasehatku yang bijak, tapi...ah...andai mereka tahu aku pun sebenarnya jika ada masalah tak selamanya mampu untuk berdiri tegak. Mungkin orang lain akan mudah terpengaruhi kalimat2 bijak dariku yang entah darimana datangnya hehe. Namun betapa sulitnya menaklukkan diri sendiri, bukan?.

Banyak orang yang bahkan berprofesi sebagai konsultan, advisor, sang hakim, atau dai yang terjun langsung ke masyarakat publik, namun ketika mereka sendiri mendapat cobaan berat atau masalah, tak sedikit publik yang lantas memandang sebelah mata. Kekurangan mereka yang "satu biji" diekspos habis-habisan, sedangkan kebaikan2 atau kata2 menyegarkan hati mereka yang lalu-lalu lantas terhapus begutu saja dari benak publiknya.

Aku mendadak takut jika salah seorang dari mereka juga berkomentar sama "si Maya itu bijaksananya cuman ke org lain". Bagiku, sindiran itu nendang banget.

Lagi-lagi saya termenung...mengupas kesalahan diri sendiri.

At midnight, ketika ramadhan hampir seperdua