Minggu, 14 Agustus 2016

Profesi Lain

Sebagai sosok yang multitalenta (beri tanda kutip), kadang saya diberi 'job' di luar tupoksi yang sebenarnya. Kadang ada yang inbox minta dicarikan jodoh, yaa saya carikan. Karena stok calon tidak selalu ready, kadang malah sampai open PO kwkwk. Ada pula yang rela mengantri demi mendapatkan yg terbaik. Namanya juga ikhtiar, banyak jalan menuju pelaminan, selama ini gratisan. Apalagi saya belum berubah pikiran utk mengkomersilkan job satu ini hahah.
Kadang ada yang minta dicarikan nama buat anaknya, cucunya, hingga calon anaknya *padahal istri saja blm punya*. Entah lewat Aliasyadi, atau lewat Mayyadahnya. Tapi ujung-ujungnya Aliasyadi mengalihkan ke Mayyadah. Katanya, perempuan lbh punya feeling dan intuisi. Mungkin maksudnya saya punya kemampuan mendeteksi apa nama ini bisa bikin anak org jadi preman atau gak  Meski pas saya setor nama2 pilihan, selalu ada kalimat warning di belakang: Efek dari nama ini di luar tanggung jawab pemberi nama! Secara gitu, gak pake asuransi atau komisi. Jangankan satu rupiah, aroma kambing akikahan anaknya aja gak pernah ada yang nyampe ke rumah saya. Sebaiknya saya close order sekarang!

Senin, 13 Juni 2016

Rela atau Dipaksa

Kemarin saya sempat membaca jurnal berbahasa Arab dari seorang asisten profesor. Tumben juga saya membaca ginian, padahal sehari2 lbh byk baca status kamuuu :p [Contoh dosen ngelesnya Indonesia hihi]. Okey, kembali serius! 

Di situ Prof. Ahmad Muhammad membahas tentang "paksaan". Dalam kajian fiqhi, terma ‘dipaksa’ dan ‘tidak dipaksa’ menjadi salah satu konsen pembahasan ulama. Orang yang dipaksa (almukrah) dan orang yang tidak dipaksa (al-mukhtar) memiliki konsekuensi/hukum yang berbeda terhadap perbuatan yang dilakukannya.

Menariknya, setiap fuqaha memiliki pengertian dan batasan berbeda-beda tentang terma tersebut, terutama dalam masalah “paksaan”.  Hanafiyah sendiri menjelaskan bahwa paksaan/al-ikhraah itu ada dua macam, ada bentuk paksaan penuh dan adapula paksaan setengah. Paksaan penuh membuat yang dipaksa kehilangan kuasa sekaligus tidak punya pilihan lain selain melakukan yang dipaksakan kepadanya. Sementara paksaan setengah berakibat seseorang menjadi “setengah dipaksa”, karena dia sebenarnya masih punya pilihan lain.

Saya tidak perlu berpanjang lebar membahas kajian ‘paksaan’ dalam fiqhi. Saya hanya ingin memberikan gambaran dan perbandingan bahwa ternyata masalah “mau atau tidak mau, dan rela atau tidak rela’ berpengaruh sangat besar terhadap cabang2 masalah hukum Islam, artinya ini masalah yang penting terutama menyangkut kehidupan kita sehari-hari.

Sejatinya, kerelaan itu bisa dihayati maknanya jika kita pernah merasakan ‘dipaksa’. Orang-orang yang gak pernah ngalami bagaimana dipaksa kerja rodi sama penjajah, tidak akan tahu nikmatnya merdeka. Hubungan suami istri pun terkadang begitu: suami dipaksa memenuhi gaya hidup istri padahal sebenarnya ia tidak mampu. Maka suami yang begini akan memilih poligami, biar bisa merasakan nikmatnya istri yang gak suka maksa2 hahah. *tertawa ala provokator*

Jumat, 30 Januari 2015

Susahnya Jadi Mahasiswa, Lebih Susah Jadi Dosen

Menurut saya, menghadapi mahasiswa yang notabene bukan lagi 'bocah ingusan' gampang2 susah. Mau digalakin, mereka bukan anak kecil lagi. Mau disayang2, mereka malah melempem. Satu2nya cara utk membentuk karakter akademik mereka adalah dg menegakkan sistem. Ya,sistem!

Dan resikonya seperti ini:
Sekarang ini ujian semester udah lewat. Bisa dikatakan, sekarang adalah waktu2 pengecekan nilai dan persiapan KKN buat mahasiswa tingkat akhir. Nah, syarat KKN itu, mahasiswa kan harus memenuhi jumlah SKS sekian. Trus, masalahnya saya dimana?

Jadi gini, ada beberapa (sebagian kecil) mahasiswa tingkat akhir yg komplain ke saya, kenapa nilai mereka gak ada utk mata kuliah yg saya ajarkan. Setelah saya re-check, uh lala, ternyata...ampun dah, jgnkan ada nilai tugas, jumlah kehadiran mereka saja gak sampe 30%. Pantesan, saya gak ngerasa pernah liat mukanya haha.

Kamis, 22 Januari 2015

Karena Kamu Sudah Terpilih

Terkadang saya berpikir, knp juga saya harus susah-payah begini mempertahankan idealisme di tengah realitas yang justru menghantam semua dinding ekspektasi. Sejak awal, saya memang bercita2 jadi guru. Sepulang dari LN, saya mengabdi ke sebuah pesantren sebagai guru sambil meneruskan S2. Kemudian, saya mendaftar jadi dosen dan semuanya seperti menantang tekad saya yg menolak utk setengah2. Sistem birokrasi di satu sisi seperti menciptakan sebuah dualitas identitas. Di satu sisi saya seorg dosen, saya harus menshare ilmu dan wawasan yg saya miliki, saya bertggungjwb buat mendidik generasi, dan segala embel2 akademik. Tetapi di satu sisi, saya ini 'pegawai negeri' dgn sistem, atasan, regulasi pemerintah dan institusi yg membuat saya tersadar klo saya tak lebih dari seorg 'buruh'. Dan tdk semua lingkaran sistem itu mendukung 'iklim akademik', terkadang....hahaha...(mungkin itu cuma prasangka saya) membunuh semua kreativitas :D

Kamis, 01 Januari 2015

Kaswad Jadi Sekjen DDI: Sebuah Dilema?

Pasca Muktamar DDI, tampaknya tema ‘Anti MK’ masih menempel kuat dalam beberapa wacana yang dilontarkan oleh para kader di sebuah grup komunitas DDI. Bagi mereka yang masih susah untuk ‘move on’  dari mazhab Anti MK ini, maka tidaklah heran jika penolakan terhadap Pak Kaswad sebagai Sekjen terus mengalir hingga kini. Ini sebuah hal yang logis, karena menurut sebagian besar kader DDI (terutama mereka yang mengawal perjuangan penyatuan DDI), tubuh DDI pasca muktamar haruslah steril dari mantan penguasa orde lama beserta jajarannya agar organisasi bisa kembali ke mabda’ DDI. Ibaratnya, menyapu lantai yang kotor haruslah dengan sapu yang benar-benar bersih.
Penolakan terhadap seluruh ‘kubu MK’ ini bukan sesuatu yang seharusnya disalahkan. Bukan tentang siapa yang salah dan siapa yang benar. Sejarah panjang perpecahan DDI dan setumpuk konflik di dalamnya telah menggoreskan luka dan trauma masa lalu bagi semua kadernya. Tidak sedikit airmata, keringat bahkan materi yang dicucurkan oleh para kader untuk mengurai benang kusut dalam tubuh DDI. Bahkan hingga perjuangan tersebut membuahkan hasil, trauma masa lalu akan sulit untuk disembuhkan dari benak dan pikiran para kader.
Namun, arus penolakan ini bukan tidak menemui tantangan. Pertama, tidak sedikit kader DDI yang memilih untuk mendukung hasil musyawarah Tim Formatur, atau dengan kata lain, tidak menolak opsi Kaswad sebagai Sekjen. Kedua, belum ada konfirmasi resmi dari Dr. Rusydi Ambo Dalle atau wakil dari tim formatur untuk menanggapi isu hangat yang bekaitan dengan dipilihnya Kaswad sebagai Sekjen. Menurut penulis, hal tersebut bisa menunjukkan bahwa ide pencalonan Kaswad masih belum fix atau bisa jadi karena tim formatur baru akan memberikan konfirmasi resmi setelah musyawarah betul-betul final agar tidak menimbulkan polemik baru.