Senin, 15 Februari 2010

MATA AIR 100 JUTA

Saya bersyukur menjadi salah satu saksi sejarah perjalanan sebuah pesantren di atas bukit itu. Bukit yang dulunya belantara, tempat bercokolnya para dedemit, telah berubah menjadi satu surga menuntut ilmu. Bukit itu bernama Tonrong-e, sebagian santri menyebutnya sebagai Penjara Suci.

Saya tak akan bercerita panjang lebar tentang kenangan-kenangan bersamanya, atau tentang ribuan memori tertinggal tentangnya. Saya hanya akan bercerita satu hal, tentang satu keajaiban yang membuat airmata penderitaan mengering dan doa-doa panjang terkabul sudah. Keajaiban itu bernama Mata Air 100 Juta yang membuat banyak orang bertanya-tanya tentangnya.

Saya masih ingat, saat itu saya masih kecil sekali, dengan tangan yang hampir putus dan kaki telanjang yang mengejang, saya harus mengangkat air dari sumber yang jauh. Saya harus menempuh jalan berupa batu yang licin dan tajam untuk sampai ke lembah yang berada di bawah rumah. Keluarga saya tinggal di bukit sebelah atas, di depan mesjid, dimana air tak mampu mengalir sampai ke rumah. Sudah berkali-kali mesin dinamo air diganti karena terbakar, dan berkali-kali itu pula saya dan adik-adik terpaksa turun lembah, mengambil air sambil malu-malu karena di sumur itu yang ada hanya para santri putra. Kadang pula para santri yang membawa jerigen-jerigen air ke rumah ketika berangkat ke mesjid dan rasanya senang sekali melihat bak mandi di rumah kami penuh.

Ketika libur tiba, bukit itu meninggalkan sunyi, dan air harus kami usahakan sendiri. Saya takut turun ke lembah atau ke daerah bawah karena begitu sepi selama hari libur dan saya dengar banyak hantu disana. Saya akhirnya lebih memilih ke sumur seorang petani di bawah bukit, membawa satu baskom besar cucian bersama adik-adik yang jumlahnya ada lima. Disana saya rela dipelototin dan disalak oleh anjing-anjing sang petani dan saya pulang ke rumah setelah terengah-engah mendaki ditemani mentari yang sudah meninggi. Saya tak jarang menyembunyikan tangis karena menyadari betapa sulitnya kehidupan waktu itu.

Saya bahkan masih ingat bagaimana pusingnya kami melihat kotoran kambing-kambing di teras rumah, dan tak ada air untuk membersihkannya. Tak jarang saya harus menginap di rumah teman jika air tak ada dan merasa risih mandi di sumur terbuka warga kampung. Air, hanya air, selebihnya saya dan keluarga saya sanggup menghadapi apa saja (termasuk serangan biawak dan babi hutan MySpace).

Suatu hari, menjelang keberangkatan saya ke Negeri Musa, keajaiban itu datang setelah penderitaan yang panjang. Tuhan menjawab doa keluarga saya, para santri, dan guru-guru. Keajaiban itu berawal dari sebuah mimpi. Tepatnya tahun 1988, Ust. Sa'ad Hayyi, seorang guru asal Massalembu bermimpi melihat mata air yang memancar di dekat mesjid. Mimpi itu bukan datang sekali, tapi berkali-kali menghiasi tidurnya dan berkali-kali pula orang-orang tak percaya. Bukan apa-apa, Tonrong-e berada jauh diatas permukaan laut, dan dibawahnya tertidur lapisan batu cadas yang keras.

Sa'ad Hayyi bahkan tak pernah mengira jika berpuluh-puluh tahun sesudahnya, mimpinya menjadi kenyataan. Saat salah satu calon bupati Barru yang meminta dukungan kepada para santri serta guru-guru pesantren Tonrong-e, bersedia memberikan bantuan dalam bentuk apa saja ke pesantren. Ayah saya akhirnya membuka suara tentang masalah kesulitan air bersih itu dan berjanji memberi dukungan kepada Bapak Basir Palu, calon bupati itu, jika masalah air tadi bisa diatasi. Untuk melacak keberadaan mata air dibutuhkan setidaknya alat bor yang canggih dan memerlukan biaya sekurang-kurangnya 75 juta. Hanya Allahlah yang menggerakkan hati Pak Basir Palu untuk mengeluarkan dana pribadinya agar pengeboran bisa dimulai.


Dengan basmalah Ayah menunjuk ke lokasi mata air sesuai dengan mimpi Sa'ad Hayyi yang memang sudah sering diceritakannya kepada Ayah. Sementara itu, para santri dan guru berkumpul di mesjid pada hari pengeboran itu, lalu berjama'ah menamatkan Surah Yasin berkali-kali demi untuk mengetuk pintu langit. Saya tahu dada Ayah pasti berdebar kencang seperti gemuruh suara pembaca Yasin itu, siapapun tak tahu apakah mata air itu benar-benar ada ataukah pengeboran itu akan berakhir sia-sia?

Rencana pengeboran pada awalnya sedalam 170 meter, namun ketika alat bor itu berada pada kedalaman 35 meter, mesinnya mandek dan meraung-raung seperti seorang yang sakit gigi (hiperbolis banget ya MySpace). Para petugas bersimbah peluh berusaha kembali, tapi lagi-lagi gagal, karena bor menghantam batu cadas. Akhirnya petugas itu menyerah lalu berjanji akan datang keesokan harinya.

Sebelum mentari terbenam di Barat, beberapa anak kecil yang sedang bermain di sekitar mesjid merasa penasaran melihat ada alat aneh yang tertancap ke dalam tanah. Dengan nakal mereka menggoyang-goyangkan tiang pompa dan tak disangka batu cadas itupun pecah. Alangkah terkejutnya anak-anak kecil itu ketika mereka melihat semburan air seperti petasan yang kemudian membasahi permukaan tanah. Orang-orang berteriak, atas kehendak Allah, sebuah mata air pun telah ditemukan.

Ayah lalu menghubungi para ahli di dinas kesehatan provinsi untuk menguji kemurnian dan kelayakan konsumsi air tersebut. Sampel air itupun dibawa ke laboratorium kemudian diteliti. Hasilnya sungguh mencengangkan! Sebenarnya saya tak terlalu mengerti masalah Kimia atau Geologi atau semacamnya MySpace,tapi saya akan berusaha menjelaskannya agar teman-teman mengerti betapa luar-biasanya mata air itu.

Untuk mencapai mata air itu diperlukan kedalaman pengeboran 38 meter, sedangkan tinggi bukit Tonrong-e adalah 40 meter dari permukaan sawah. Artinya, mata air itu berada jauh diatas permukaan sawah yang membuatnya tidak bercampur oleh lumpur dan material tanah persawahan. Selain itu, mata air tersebut berada jauh diatas permukaan laut sehingga tidak akan bercampur garam. Yang paling menakjubkan adalah hasil lab menunjukkan bahwa air yang keluar dari mata air itu mengandung 0% bakteri karena terjaga kemurniannya dan faktor letak yang jauh dari pusat limbah atau pabrik. Jadi airnya tidak perlu lagi dimasak.

Disisi lain, mata air yang kaya mineral itu terbebas dari pengaruh radiasi atau biolistrik sehingga tidak akan berubah warna ataupun rasa. Perlu diketahui, ion-ion yang terkandung dalam mineral air bisa membentuk senyawa lain jika dihantari oleh listrik, senyawa inilah yang biasanya merubah warna air (jangan pusing y MySpace )Kadar mineral dan kandungan airnya pun ternyata mampu mengobati berbagai macam penyakit.


Suatu hari, setelah mencoba air itu untuk pertama kalinya melalui kran yang ada, Ayah saya merasa ada yang berbeda. Penyakit asma akutnya hilang! Ayah mengidap penyakit itu sudah berpuluh-puluh tahun. Menurut cerita beliau, itu adalah akibat ilmu hitam yang telah dilepaskan dari tubuhnya. Cerita sembuhnya asma Ayah kemudian tersebar bagai dengung lebah. Para penduduk di kampung-kampung sekitar mulai berbondong-bondong datang dengan membawa botol atau jerigen demi mencoba khasiat air itu. Tak sedikit dari mereka datang dua sampai tiga kali, beberapa diantara penduduk yang meminum air itu mengalami pengalaman yang sama dengan Ayah.


Tak heran jika satu dua perusahaan besar air mineral datang dari kota membujuk Ayah agar mata air itu dikomersialkan. Ayah menolak karena tak ingin mengeksploitasi mata air itu. Jikapun kemudian air itu dijual secara mandiri oleh pesantren dalam bentuk galon, itu hanya untuk menutupi biaya operasional listrik sehingga air bisa tetap sampai ke rumah-rumah guru, kantin dan asrama. Dan harganya pun lillahi ta'ala.


Meski kemudian Pak Basir Palu tak memenangkan pemilihan, saya yakin beliau akan mendapatkan sesuatu pengganti yang lebih baik. Mata air itu akan terus mengalirkan pahala beliau dan namanya akan terus dikenang. Mata air itu bukan hanya menelan biaya jutaan rupiah untuk menemukannya, tetapi juga memerlukan waktu yang panjang untuk mengakhiri kesulitan air di Penjara Suci. Mata air itu ada setelah melewati beratus juta raka'at Tahajjud dan Dhuha, ratusan juta doa para penghuni bukit, dan tetes-tetes air mata penderitaan yang tak terhitung.


Saat acara tasyakuran air itu diadakan, dihadiri pipmpinan pondok dan para tokoh penting, saya menyaksikan sendiri puluhan kran dinyalakan dan air itu tak berhenti mengalir. Slide-slide masa lalu muncul ketika saya meneguk air itu, bayangan seorang gadis kecil pengangkut air tiba-tiba terbayang di benak saya menghadirkan senandung haru MySpace. Sungguh, nikmat kebahagiaan itu akan lebih terasa jika didahului bersusah-susah dan menderita. Ala kulli hal, alhamdulillah...


kalo foto ini gak ada hubungannya dgn cerita heheheh^^


NB: Thanks 4 Faridah Faried, which has given me a free call 2 investigate my dad and to Pak Akbar Hamdan 4 allowing me to copy his pictMySpace.






25 komentar:

Dheny Gnasher Setiadi mengatakan...

Makasih masukannya. Kalo ada waktu, kami akan buat yang seperti itu :)

JktNote.

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Sebuah kisah yang Fantastis..
Makasih banyak ukhti sudi mampir di gubuk saya.

Oh yah...Dulunya tinggal di Barru yah?

♥ria♥ mengatakan...

kisahnya panjang tapi menarik
ada himahnya juga
tp kau tertarik sama tempat tinggal maya
maya di indonesia tinggal dimana ?

Hdsence mengatakan...

salam,,,
kunjungan perdana neh,,,

cerita diatas kisah nyata yaa,,,

nice story
sukses,,,,

Henny Y.Wijaya mengatakan...

cerita yang bikin terharu sekaligus memotivasi.
salam silaturrahim :)

secangkir teh dan sekerat roti mengatakan...

sangat inspiratif!

attayaya mengatakan...

Alhamdulillah
rasanya, semua penderitaan mulai berangsur membaik
do'a dan puji syukur tetaplah selalu dipanjatkan
air adalah sumber kehidupan
jagalah, karena itu warisan anak cucu

Imarah Tellu mengatakan...

Tonrong'e,disekeliling kampung ini punya beratus mata air memang dengan beribu kisah² hikmah di dalamnya :)

bangga rasanya saya juga sempat berada di penjara suci itu hehe..:)

Macan Kampus mengatakan...

subhanallah sekali ya.....

AISHALIFE-LINE mengatakan...

Kujungan balik.Kisahnya menarik sist.Semoga sekarang lebih baik dari yang dulu.

Hendriawanz mengatakan...

aduhh mb..speechless!

semoga senantiasa mendapat kebaikan.

oya, good luck juga mb.
saya follow ya.

berita untuk negri mengatakan...

sangat bermanfaat artikelnya sobat,,
salam persahabatan

a-chen mengatakan...

wah, blognya islami nich... salam kenal ea....

Munir Ardi mengatakan...

sebuah cerita yang sangat membangun mbak Maya bagaimana nih asil ujiannya

Darin mengatakan...

Subhanallah. Artikel yang bagus May!

Abi Sabila mengatakan...

"....berjanji memberi dukungan kepada Bapak Basir Palu, calon bupati itu, jika masalah air tadi bisa diatasi....."

Semoga dukungan yang diberikan memang karena calon bupati ini 'layak' di dukung, bukan 'sekedar' karena masalah air....

Chomisah Noer mengatakan...

Ceritanya puanjang...


makash yah dah mampir, lam kenal...

AndiRyank mengatakan...

Cerita Yang Fantastik

Syifa Ahira mengatakan...

kisah yang mengharukan..

iLLa mengatakan...

great!! bikin merinding bacanya, mudah2an nanti bisa juga merasakan minum air suci itu..

NURA mengatakan...

salam sobat
menarik kisahnya ,,,
wah di Kairo masih kuliah ya,,
saya ada teman blognya BAPIA MESIR.
trims kunjungannya,
salam kenal.

dinda27 mengatakan...

Kisah yang luar biasa.
Betapa Allah Maha Besar
Saya merinding menyimak cerita ini.

Mbak, ada bingkisan gambar jenaka.
bila berkenan silahkan diambil disini: my Daddy

Titip salam hormat tuk Ayahanda.
salam.

ancha mengatakan...

ass. mayyada, sy adlah alumni 03 tongrong-nge, sy naik tongrong-nge pd thun 97, sy masih ingatki pd saat itu kt msih pakai baju merah putih(SD), tp skrang kita udah punya anak kembar ya' moga anakx nantinya lebih hebat dari kakeknya Ami..n, kisahta membuat sy teringat masa2 q di tongrong-nge tercinta, gue hidup 6 thn lamax di sana. moga kita semua jd orang yg sukses dunia n akhirat Ami..n.

rista mengatakan...

hy

inha mengatakan...

ka' fotonya lucu jga yah itu pasti
ka maya n Agh wahab
oyh salam kenal
by inha magkso