Sabtu, 05 September 2009

Kata temanku "Bijaksananya dia cuma ke orang lain"

Hari ini saya lagi-lagi mendapat pelajaran berharga. Tadi siang saya buka puasa bersama teman2 almamater sekaligus ikut acara kajian. Sambil makan, kta bercerita kesana-kemari, dari tema Z ke tema A. Sampai kemudian saya menanyakan seorang teman yang tak hadir saat itu.



"Kayaknya si Ardi sibuk banget beribadah ya, sampe gak ikut kajian, aku liat status di YMnya klo bukan "lagi ngaji", "Ramadhan jgn dilewatkan begitu saja", "tarwih dulu", pasti bunyinya yg alim2 gt deh."


"Gak juga, tadi dia malah di depan kompi,chat terus kerjaannya" jawab teman serumahnya.


"Tadarrusnya sambil di depan kompi kali," timpalku berhusnuzhan. Tanpa sadar temanku itu ceplos dengan raut muka menyindir dan keluarlah kalimat itu, kalimat yang nantinya membuatku membisu.


"Dia mah kalo ke org lain bijaksana gt deh kesannya, padahal ke dirinya sendiri kagak..."


Aduh, temanku ini kalau berbicara sukanya langsung-langsung saja. Dia itu memang ceplos orangnya, blak2an, kadang tanpa sengaja menyindir atau mengejek orang lain. Tapi aku tahu orangnya baik, karena dia tidak keberatan kalau harus dikritik balik.


Aku mengulang kalimatnya barusan dalam hati. Dia bijaksananya cuman ke orang lain...


Mendadak aku terdiam lama, menekuni kata2 itu, mengembalikannya pada diriku. Jangan-jangan selama ini aku juga begitu, bijaksana hanya kepada orang lain, sedangkan aku sendiri tak mampu melaksanakannya.

Tak sedikit temanku yang selalu menjadikanku "konsultan" alias "langganan curhat" jika mereka ada masalah. Di dunia cyber pun seperti itu, tak jarang teman2 yang bahkan sama sekali belum ketemu langsung orangnya, sudah tak merasa aneh jika harus mengutarakannya uneg-unegnya ke aku. Rata-rata mereka bilang, aku orangnya enak diajak curhatlah, pendengar setialah, bahkan ada yang sampai sekarang selalu memanggilku dengan panggilan "Bunda" wuiihhh...(Bunda peri kali maksudnya hehe)


Ah, andai mereka tahu kalau aku tak sebijaksana itu. Aku mungkin saja memberikan mereka solusi, menyegarkan kembali hari-hari mereka dengan satu kalimat nasehatku yang bijak, tapi...ah...andai mereka tahu aku pun sebenarnya jika ada masalah tak selamanya mampu untuk berdiri tegak. Mungkin orang lain akan mudah terpengaruhi kalimat2 bijak dariku yang entah darimana datangnya hehe. Namun betapa sulitnya menaklukkan diri sendiri, bukan?.

Banyak orang yang bahkan berprofesi sebagai konsultan, advisor, sang hakim, atau dai yang terjun langsung ke masyarakat publik, namun ketika mereka sendiri mendapat cobaan berat atau masalah, tak sedikit publik yang lantas memandang sebelah mata. Kekurangan mereka yang "satu biji" diekspos habis-habisan, sedangkan kebaikan2 atau kata2 menyegarkan hati mereka yang lalu-lalu lantas terhapus begutu saja dari benak publiknya.

Aku mendadak takut jika salah seorang dari mereka juga berkomentar sama "si Maya itu bijaksananya cuman ke org lain". Bagiku, sindiran itu nendang banget.

Lagi-lagi saya termenung...mengupas kesalahan diri sendiri.

At midnight, ketika ramadhan hampir seperdua

5 komentar:

ali febriyanto mengatakan...

ada sedikit Catatan Febri untuk tulisan ini. Bijaksana terhadap orang lain memang baik, karena itu adalah salah bentuk tolong menolong dalam kebaikan. Akan tetapi, ada sesuatu yang membingungkan adalah kita harus mementingkan diri kita sendiri atau orang orang lain??? Banyak mahasiswa yang mempunyai probelem sepereti ini : menolong orang lain dengan menjadi seorang aktivis di kampus atau menolong diri sendiri dengan menjadi pasivis (kuliah pulang kuliah pulang) kupu kupu

ali febriyanto mengatakan...

Mbak, blogmu dah aku tambahkan sebagai Sahabat Maya

Mayyadah mengatakan...

hmm,,,kamu peka juga, feb. kita boleh aja perhatiin orla tp jgn smpe ngorbanin diri sendiri. tengkyyu feb udah jd sahabatku:)

guskar mengatakan...

knp selalu timbul pernyataan spt itu ya : bijaksananya cuma ke org lain? :)
sangat wajar, krn posisi "konsultan" ada di luar permasalahan, sehingga ia lebih luas memandangnya dan dapat memberikan lbh dari satu solusi.

Mayyadah mengatakan...

heheh,,,benar2 Gus nih, matang bgt pemikirannya^^