Monday, August 31, 2009

SANG PEMENANG

Akhirnya aku selesai ujian juga. Rasanya….PLONG! Wah-wah ketahuan, ternyata aku adalah satu diantara beberapa jumlah kepala masisir yang masih menganggap ujian itu beban. Kenapa yah, aku merasa kalau ujian itu seperti perang, dan aku adalah prajurit rendahan yang dipaksa meras otak selama sebulan.

Bayangkan, sebulan! Itu artinya 30 hari, 720 jam, 43.200 menit, dan 2.592.000 detik!!! Hitung-hitung ada puluhan bungkus cemilan yang kuhabiskan demi menemani hari-hariku yang penuh kerja keras (baca: kerja paksa), ada malam-malam menegangkan yang penuh emosi, siang-siang membakar yang memicu adrenalin semakin panas. Dan semua itu belum cukup tanpa menyebut jumlah kocek yang kuhabiskan demi menelpon orangtua di seberang sono, sms ke teman-teman mohon pengampunan dosa, biaya fotokopi talkhisan, de-el-el yang sudah mencapai batas min haitsu la yahtasib.

Ada lagi yang lumayan aneh di musim imtihan, semoga hanya aku yang mengalaminya. Terus terang yah, yang namanya tahajjud alias shalat malam biasanya cuma bisa dihitung jari di hari-hari biasa. Di hari-hari luar biasa, wah, terjadi perkembangan yang cukup drastis saudara-saudara! Meski mata kadang tak mau diajak kompromi, bayangan azab “rasib” selalu menjadi supporter terkuat demi menjaga agar sepertiga malam tak berlalu begitu saja. Siapa lagi yang Maha diatas manusia, denganNya diri dan hati selalu berharap bahwa semua perjuangan di medan perang tidak akan sia-sia. Namun sayang, kebiasaan hebat ini hanya bertahan sebulan, atau paling tidak sampai natijah turun, dan setelahnya...wallahu a’lam. Addaaa aja!

Ngomong-ngomong, aku bersyukur masih punya kesadaran tingkat tinggi untuk belajar, masih tergolong mahasiswi yang berorientasi “pulang cepat dan secepatnya”, masih punya jiwa pejuang yang ogah dibilang menyerah sebelum berperang. Kalau Ririn, temanku yang seimarah….

“Biar lambat asal selamat, Ra, lagian hidup di Mesir itu cukup menjanjikan..” komentarnya santai. Memang sih, dia najah terus meski nyerempet-nyerempet bahaya. Tahun kemarin dia manqul dua, tahun sebelumnya makbul.

“Menjanjikan? Maksudnya?” tanyaku waktu itu.

“Itu..tuh..tiga kata..aman, murah, dan musaadah..” jawabnya tersenyum simpul. Aku memasang wajah manyun, ”maunya bukan aman, murah, dan musaadah, tapi melenakan, membahayakan, dan menjadi-jadi.” Aku berlalu meninggalkan si Ririn yang masih bingung dengan kalimatku.

Lain Ririn, lain Amnah. Anak itu otaknya entah pentium berapa, belajarnya sih sambil tiduran, kuliah lebih jarang dari aku, tapi herannya dia bisa jayyid jiddan dua tahun berturut-turut. Jadwal belajarnya tak ada yang tahu. Begadang pun tidak, kalau ba’da shubuh matanya sudah lima watt.

“Bagi dong rahasianya, Na” pintaku penasaran. Seperti biasa, dengan gayanya yang “cool” itu, Amnah cuma tersenyum.

“Aku tak punya rahasia apa-apa, Ra. Tiap orang kan tipe belajarnya beda-beda. Kalo aku yang penting kualitas, bukan kuantitas.” Sahutnya enteng.

“Aku bukan orang yang betah menghapal sampai berjam-jam, sampai pantat kempes, aku lebih suka membaca sedikit tapi paham. Jadi, pas imtihan, aku menulis jawaban pakai ta’bir sendiri,” jelasnya membuatku melongo. Resepnya Amnah memang ampuh, tapi aku tak bisa seperti itu. Maklumlah, bahasa Arabku aja pas-pasan, otakku apalagi, tipe celeron asli. Ketik C spasi D “cape’ dech”.

Pernah suatu hari aku berniat belajar ke mesjid Azhar sekalian belanja dapur di belakang mesjid. Lumayan, disana mesjidnya adem dan hammamnya bersih. Di sudut mesjid kutangkap sesosok mahasiswa yang tak lain seniorku dulu di pondok. Sampai sekarang aku masih memanggilnya Ustadz Hasyim, padahal umurnya cuma terpaut setahun dariku.

“Imtihan kapan, Tadz?” tanyaku basa-basi. Kepalanya menengadah, berhenti membaca dan menatapku heran.

“Eh, Rani, kok disini?”. Aku nyengir, ini orang malah balik tanya. Niatnya aku ingin cepat-cepat menghilang dari situ.

“Mau belajar..”sahutku pendek.

“Sama dong. Ustadz juga mau talaqqi hari ini. “ Aku tersenyum lalu buru-buru pamit, sempat kubaca judul kitab yang dia pegang “Fathul Barii”. Ampun, kirain dia lagi sibuk belajar muqarrar. Subhanallah..musim imtihan masih sibuk talaqqi, bisikku. Ada juga tipe yang seperti ini. Masalah akademik atau najah nomor belakangan, yang penting talaqqi tidak pernah absen. Ke Mesir mencari ilmu, bukan mengejar najah, itulah semboyannya. Ustadz Hasyim itu malah sudah diambang mafsul. Tapi, mungkin ilmunya dah segudang, pikirku berhusnuzhan. Masih bagus waktu habis buat talaqqi, daripada nonton bola? Piala Eropa lebih menarik dibanding imtihan, seperti kata Arman, si maniak bola.

Begitulah, begitu banyak cerita di balik musim imtihan. Namun, tak ada yang lebih dramatis dibanding dengan musim penantian natijah. Ada yang berusaha menyembunyikan stress dengan ikut rihlah sana-sini. Ada juga yang saking tegangnya sampai berat badannya turun seperti Kak Marti. Ada juga yang begitu tenang dan optimis. Kalau aku, pelampiasannya lari ke internet. Jangan salah, 70 % dijamin bukan buat chating, tapi aduh..malu ngomongnya..nonton blockbuster. Maklum, di imarahku tak ada tivi atau net.

Tak terasa, hari terus berlari bersama detak jantung yang turun naik. Penantian itupun berakhir sudah. Dan jikapun hanya selembar kertas yang bertorehkan tinta “nasib”, airmata bahkan sanggup mengaburkan segalanya. Teman-teman yang tampil sebagai pemenang, hanya ada satu kata, BAHAGIA.

“Ra, kamu najah, jayyid, selamat yah” ucap Amnah yang kebetulan melihat natijahku. Dadaku sesak. Haru.

“Wallahi, Na? Kamu juga pastinya jayyid jiddan lagi,kan?” sahutku setengah serak di peluknya.

“Gak, aku juga jayyid..” ujarnya dengan wajah berubah mendung, “Alhamdulillah, yang penting kita najah bareng..” tambahnya tiba-tiba semangat. Kami berpelukan dan melompat seperti waktu penerimaan rapor di SD dulu.

Tiba-tiba Ririn muncul, tanpa salam tanpa kata, dia menerobos masuk kamar. Brakk. Pintu kamar terbanting keras, tak lama tangisnya menggema di dinding-dinding rumah.

“Ririn gak bisa sekelas lagi sama kita,” kata Amnah setengah berbisik.

“Maksudnya, dia..dia..rasib?” Amnah mengangguk membuat perasaanku bertambah kacau. Kali ini Ririn bukan pemenang. Tangisnya terdengar begitu pilu, seperti gerimis untuk pertama kalinya di akhir musim panas.
* * *
Kosakata:
talkhisan: rangkuman pelajaran
min haitsu la yahtasib: tak terhitung
imtihan: ujian
jayyid/ jayyid jiddan: peringkat kelulusan "baik" / "baik sekali"
musaadah: sumbangan dlm bentuk sembako ato uang, biasanya org mesir di bln ramadhan berlomba2 ngasih musa'adah ke pelajar2
rasib: tidak lulus, artinya harus mengulang setahun di kelas yg sama
talaqqi: pengajian lgsung sama seorg syekh
muqarrar: diktat kuliah

(cerpen ini pernah dimuat di Buletin "INFORMATIKA" edisi 136/ september 2008)






Sunday, August 30, 2009

HUJAN DI PELUKAN AYAH

Seorang sastrawan besar Norwegia yang juga peraih nobel sastra, Bjornstjeme Bjornson, pernah menulis kisah tentang seorang ayah dan anak. Sang Ayah yang kaya raya, awalnya bahagia dengan kecemerlangan buah hatinya. Baginya, harta tak ada apa-apanya dibanding anak tunggalnya itu. Setiap saat, Sang Ayah bercerita tentang anaknya kepada seorang pendeta. Hingga suatu ketika, di sebuah malam yang tenang, anak tunggal kebanggaannya itu tenggelam di depan batang hidungnya sendiri. Sejak kematian putranya itu, Sang Ayah sangat menderita dan garis kejayaan di wajahnya telah hilang dalam sekejap.

“Dan di akhir kisah, Sang Ayah mendermakan separuh hartanya untuk orang-orang miskin atas nama putranya.” Kata Ayah mengakhiri dongengnya malam itu. Aku menguap lebar bersiap untuk tidur. Tapi aku ingin tidur di pelukan Ayah seperti malam sebelumnya.

“Minta izin dulu sama Ibu.” Aku mengangguk dan sambil terkantuk-kantuk aku membuka pintu kamar Ibu. Kulihat Ibu masih sibuk menyelesaikan rajutannya.

“Ibu, malam ini Adek mo pinjam Ayah. Boleh ya?” Rengekku. Ibu tersenyum di antara wajah letihnya. “Boleh sayang, tapi ada bayarannya loh.” Goda Ibu menepuk-nepuk pipi bulatku. Aku mengerti apa yang dimaksud Ibu dengan “bayaran” itu. Aku menjinjit dan meraih kepala Ibuku yang cantik. Mmmuaah.

Aku kembali ke kamarku dan kudapati Ayah yang sudah terbaring dengan mata terpejam. Aku mengendap-endap menuju samping Ayah, menjaga agar dia tidak terbangun. Kuraih selimutku dan kunyalakan kipas angin. Aku tak bisa tidur tanpa mesin itu. Aku memeluk Ayah seakan dunia sangat aman di dalam peluknya.

Aku tak tahu kapan tepatnya aku terlelap. Aku juga tak tahu bahwa malam itu sebenarnya Ayah hanya puara-pura tertidur. Sebab tengah malam, saat kuterbangun untuk buang air, aku tak lagi mendapati sosoknya di sampingku.
* * *
Hari ini aku bukan lagi seorang anak yang berumur tujuh tahun. Hari ini, aku Rimaya Rahmah, dengan mata berbinar meniup tujuh belas lilin yang ada diatas kue ultahku. Di sampingku Ayah dan Ibu tersenyum sebagaimana senyum bahagiaku.

Kata orang, umur tujuh belas adalah tangga pertama menuju kedewasaan. Tapi bagiku tak ada yang berubah, khususnya antara aku dan Ayah. Aku tetap melewatkan malam bersama cerita-cerita Ayah yang klasik, menikmati elusannya di kepalaku sebelum kutertidur, dan menatap senja di ujung bukit bersamanya. Aneh ya? Seharusnya anak sebayaku sudah sibuk dengan dunia barunya atau paling tidak membicarakan cowok keren di sekolah. Ah, peduli amat kata orang!

“Ayah!” teriakku sambil membuka sepatu terburu-buru sepulang sekolah. Ayah yang sedang sibuk membaca kitab buat pengajian, terheran melihatku. Aku duduk di sampingnya, menyodorkan sebuah koran harian edisi hari itu.

“Lihat ini!” Tanganku menunjuk sebuah kolom sastra di koran itu. Lama aku menunggu kalimat Ayah dengan dada berdebar-debar. Pasti Ayah bahagia sekali, pikirku. Pasti Ayah akan bilang kalau aku adalah anaknya yang hebat. Setelah itu Ayah akan memberiku hadiah dan…

“Selamat ya, Nak.” Kata Ayah pendek membuatku tercengang. Cuma itu? Aku meneliti wajah Ayah, mencari makna di balik ekspresi datarnya. Tapi, raut muka Ayah begitu biasa!

“Kok cuma selamat?” protesku tersendat.

“Lalu mau apalagi, Sayang? Mau dikasih hadiah ya? Hadiahnya…ehm..nanti malam Ayah punya cerita yang bagus.” Sambung Ayah membuatku sedikit kecewa. Aku berusaha menyembunyikan kekesalan hatiku. Maya, kamu tak boleh begitu. Lagian, tulisanmu di Koran itu belum ada apa-apanya dibanding Bjornstjeme Bjornson, penulis hebat yang Ayah sering ceritakan itu. Mungkin belum saatnya Ayah bangga padaku.

Saat itu aku sama sekali tak tahu bahwa sebenarnya Ayah yang beranjak tua, terlalu bahagia untuk menampakkan perasaannya padaku. Aku sungguh-sungguh tak tahu perassaan Ayah saat kuperlihatkan tulisan pertamaku di koran itu. Sampai dua hari sesudahnya, Ibu bercerita padaku. Ketika Ayah dan Ibu berkunjung ke rumah Bapak Bupati, semua orangtua berbicara mengenai anaknya masing-masing. Ketika tiba giliran Ayah bercerita, ekspresi Ayah mendadak berubah cerah. Matanya berbinar-binar dan dengan bangga mengatakan kepada semua orang bahwa putrinya adalah calon penulis penuh bakat.

“Benarkah itu, Bu?” Tanyaku seakan tak percaya.

“Iya, Sayang.” Mataku berkaca-kaca mendengar penuturan Ibu. Jadi, Ayah bukannya tak bahagia sama sekali waku itu, malah sebaliknya Ayah sangat bahagia?

“Ayahmu tidak mau kamu cepat puas dengan tulisanmu. Makanya, dia menutupi luapan bahagianya di hadapanmu, Nak. Ayah tak ingin kamu berubah sombong,” lanjut Ibu lembut.

Aku menghapus airmataku dan berlari ke belakang rumah. Di belakang sana, di dekat kandang sapi Ayahku, aku tertegun lama. Aku menatap punggung Ayah dari belakang. Aku kembali menangis dan entah kenapa aku merasa bahwa Ayah sangat menyayangiku.
* * *
Pernah ada orang yang mengatakan padaku bahwa seorang Ayah hanya akan meneteskan airmata karena anaknya. Awalnya aku hanya tersenyum mendengar kalimat itu. Kalau aku mengingat-ingat semua kebersamaanku dengan Ayah, tak pernah sekalipun aku melihatnya menangis. Berbeda dengan Ibu, nyaris semua momen Ibu selalu menangis. Mungkin itulah yang aku warisi dari Ibu. Aku orang yang mudah sekali tersentuh.
Ternyata benar kata orang itu, seorang Ayah hanya akan menangis karena anaknya.

Saat itu kalau aku tak salah ingat, aku sudah tamat Aliyah. Dengan seragam wisuda, aku duduk di barisan para siswi yang akan ditamatkan. Mataku mencari-cari sosok Ayah dan Ibu di tengah riuhnya para undangan. Ternyata mereka duduk di kursi paling depan.

Acara demi acara berlalu dengan cepat. Aku sudah tak sabaran menunggu acara wisuda dimana para pelajar dengan bangga naik ke atas panggung. Sebelum acara wisuda dimulai, akan ada pengumuman siswi terbaik setiap tingkatan. Jantungku berdetak lebih cepat mendengar nama-nama itu disebutkan. Saat peringkat kedua disebutkan, dadaku serasa naik turun. Oh, ternyata bukan aku.

“Peringkat pertama tingkat Aliyah diraih oleh…” Nafasku terjepit diantara sekat-sekat jantungku yang menyempit.

“Rimaya Rahmah Binti Sulaiman.” Tepuk tangan memekakkan telinga. Aku berdiri dengan tegang dan menaiki tangga panggung dengan sejuta rasa. Rasa-rasanya tangga yang kupijak akan runtuh ke bawah. Seluruh sendiku bergetar. Serasa mimpi! Tanganku dingin saat Gubernur memasangkan selempang ke pundakku. Aku meneteskan airmata bahagia ketika menerima hadiah dari Bapak Pimpinan Yayasan. Aku berbalik dan Ya Allah…itulah hari yang takkan pernah hilang dari memoriku. Aku melihat Ayah dengan muka penuh guratan hidup dan uban yang menyembul dari balik pecinya membalas tatapanku dengan mata basah. Ini kupersembahkan untukmu, Ayah, bisikku penuh haru.
* * *
Matahari masih separuh seperti enggan lekas pergi ke balik malam. Langkahku pelan mengiringi langkah lebar Ayah. Aku terdiam menatap jalan yang penuh kotoran sapi. Di ujung jalan kutangkap atap rumahku yang kehijauan oleh lumut. Ayah terlalu sederhana, tak pernah sedekitpun ia berkeinginan merenovasi rumah kecil kami.

“Jadi kamu mau lanjut ke Mesir?” Tanya Ayah memecah keheningan kami. “Insya Allah, Yah. Itupun kalau Ayah setuju.”

“Kok malah nunggu Ayah setuju, Nak? Yang mau jalanin kan kamu.” Tukas Ayah tertawa kecil.

“Yeee…Ayah,” aku menggamit lengan Ayah seperti anak kecil, “kali aja Ayah gak mau melepas aku jauh-jauh. Klo Ayah kangen, susah kan ngobatinnya?” Godaku memancing reaksi Ayah.

“Itu sudah resiko orangtua, Nak. Laksana sopir angkot, suatu saat sang sopir harus sabar menerima jika angkotnya kosong.” Aku menelan ludah mendengar kalimat Ayah barusan. Kalimat yang kutangkap sebagai ungkapan kesepian.
* * *
Kalaupun ada detik, aku ingin detik itu tiada. Jikapun menit tak ingin berlari, akulah yang akan menghilang dari dimensi waktu. Tanganku masih erat menggenggam jemari Ayah. Begitu dingin menusuk ke dalam hatiku. Bahkan Ibu tak berhenti menangis di sampingku. Aku merasakan tenggorokanku sangat pahit. Kutelan semua airmataku. Aku tidak mau menangis di depan Ayah dan Ibu.

“Hati-hati di negeri orang. Jaga pergaulan, Nak. Di Mesir itu pelajar putra lebih banyak daripada putrinya. Seorang gadis, kasarnya, seperti umpan segar buat serigala. Siap-siap aja jadi pusat perhatian…” canda Ayah diiringi tawa khasnya. Aku hanya bisa tersenyum. Aku takut tertawa, nanti airmata yang kutahan berhamburan tak berhenti. Ah, Ayah, masih sempatnya bercanda di saat seperti ini.
Aku mencium tangan Ibu. Jilbabku basah oleh tangisnya.

Aku beranjak ke hadapan Ayah. Ayah menepuk-nepuk bahuku lalu berbisik:” lesung pipi putriku ini harus utuh saat pulang nanti.” Aku tersenyum kecut lalu mendorong troli menuju gerbang check in.

Aku tak menoleh sedikitpun. Detik ini jiwaku tinggal sepotong, aku tak mau menyisakannya sepotong lagi. Koper-koperku telah masuk dan menunggu tanganku menjemputnya. Tiba-tiba kurasakan tubuhku ditarik keras. Aku berbalik dan jatuh ke pelukan Ayah yang tadi terengah-engah mengejarku. Airmataku akhirnya tumpah juga. Aku menangis sejadi-jadinya seperti seorang bayi. Ya Rabbi, empat tahun bakal serasa seabad buatku!

“Aku bangga padamu, Nak” Kata Ayah sebelum melepas pelukannya. Kata-kata itulah yang selalu kukenang hingga detik dimana kisah ini kutulis untuk kalian.
* * *
(dimuat di buletin Senat FSI AL_MINHAJ, edisi Nov 2007)

catatan: cerpen ini dihadiahkan kepada seorg "calon bapak" di hari ultahnya, ehem..namanya rahasia! ;)

Saturday, August 29, 2009

BATAS HATI

Siang begitu terik seakan menghisap seluruh energi yang kumiliki. Musim dingin belum jua berakhir namun rasa gerah dengan rapat menggerogoti tubuhku. Untuk pertama kalinya dalam sejarah musim dingin ini aku berkeringat meski tak sebanjir di musim panas. Kakiku yang pendek mulai pegal dan keram. Aku memutar-mutar pergelangan kaki berharap aliran darahku kembali lancar. Kupandangi barisan thabur yang benar-benar ditaburi manusia, ada hitam, ada putih dan cokelat muda sepertiku. Tubuhku yang tingginya di bawah rata-rata semakin tenggelam di tengah kerumunan orang-orang.

"Khalas..khalas...tigi bukrah!" teriak ablah penjaga muqarrar dengan matanya yang melotot menembus kacamatanya yang tanpa frame.

"Ya ablah! Pliiizz..." seru anak Rusia yang berdiri di antrian paling depan setengah ngotot meminta dirinya dilayani. Beberapa mahasiswi berkulit hitam terlihat kesal dan mengomel dalam bahasa campuran. Ablah yang memang terkenal galak itu tetap tak bergeming dan dengan sadisnya menutup jendela kaca yang berdebu. Blam! Seketika itu juga tubuhku terasa lemas, ingin rasanya jatuh tak sadarkan diri di tengah kerumunan manusia yang mendengus kesal. Ini sudah kedua kalinya aku harus pulang hampa tanpa muqarrar setelah bersusah-payah antri. Huh...benar-benar hari yang sial! Kutendang kerikil kecil di depanku seraya menggerutu tak karuan. Menggerutu pada diri sendiri.

"Ma'alesy ya, Bu, thaburnya gagal lagi," ujarku di ponsel.

"Ya, gak papa, Sri, besok kan bisa coba lagi," sahut Alya dengan lembut. Hah, besok?! Aku menarik nafas dan menutup pembicaraan sebelum emosiku meledak. Bisa-bisa Alya yang tak bersalah jadi sasaran kekesalanku. Alya adalah teman sekelasku yang baru saja habis melahirkan bulan lalu. Jadi tak heran bila dia memintaku membelikannya muqarrar yang sudah turun.

Sebenarnya kalau tempat antrian muqarrar masih di tempat yang lama, mungkin aku tak bakal bernasib seperti ini. Entah apa alasannya mendadak loket buku dipindah ke tempat lain. Parahnya lagi, tempat thabur harus di luar jendela, tanpa atap, tepat di bawah sinar matahari langsung yang sudah siap menyambut para pengantri. Ketika matahari menghilang, angin dingin menyerang hingga ke tulang. Ah, kampusku yang usang, engkau memang sangat lihai menguji kesabaranku!

Aku berjalan pulang, kurogoh saku jaketku dan mengeluarkan kertas kecil yang sudah koyak. Bukan judul kitab yang aku perhatikan, namun nama-nama yang tertulis rapi disitu. Ada tiga orang yang menitip pembelian muqarrar kepadaku. Biasalah, para aktifis yang jarang ke kampus, kerjaannya nitip sana nitip sini. Berbeda denganku, hanya seorang aktifis tukang thabur! Aku menghela nafas panjang. Sepertinya kali ini aku harus mengembalikan titipan mereka, gumamku dalam hati. Meski besok pagi kuputuskan untuk kembali thabur di tempat tadi, aku tak mau ada beban titipan. Setidaknya aku tak merasa bertambah berat dengan amanah mereka. Kecuali Alya, tentunya.
* * *
Hari ini aku berangkat kuliah dengan energi penuh. Semangkok fuul sengaja kuhabiskan untuk persiapan pertempuran melawan ablah yang galak itu. Aku mengubah strategi, berangkat lebih pagi dengan harapan antrian tak akan sezahmah di waktu siang. Ternyata dugaanku meleset seratus delapan puluh derajat. Ada banyak orang yang berpikiran sama denganku hari ini. Untunglah posisiku tak terlalu jauh di belakang. Kulirik jam, masih ada tiga puluh menit sebelum muhadharah dimulai. Dukturah Nibel, dukturah hadisku itu menjungjung tinggi prosentase kehadiran dan tak pernah luput mengabsen kelas. Aku tak mau nilai ujianku dikurangi gara-gara tak hadir untuk ketiga kalinya.

"Ya ablah, bissur'ah!" teriak seorang Mashriyyah di depanku. Aku merengsek maju dengan senyum bahagia, kali ini tiba giliranku di posisi terdepan. Aku memasukkan tanganku yang menggenggam beberapa lembar pound setelah menyebut judul muqarrar yang ingin kubeli. Sepertinya aku belum bisa bernafas lega karena belum sempat ablah memberiku satu muqarrar pun, seorang ammu datang dengan setumpuk berkas. Entah apa yang menjadi perdebatan mereka, aku tak mau berpusing-ria memikirkan hal itu. Dengan sabar aku menunggu dan menunggu sampai-sampai antrian kembali panjang. Kupanggil-panggil ablah itu dengan memasang muka melas. Mataku terbelalak melihat jam yang sudah memberiku isyarat bahwa aku telah terlambat lima menit. Kutarik nafas berkali-kali agar kesabaranku tak melayang.

Bukk! Aduuh!
Aku berbalik dan mendapati seorang teman Mesir yang tadi menubrukku dari belakang.

"Ma'alesy," sahutnya sambil memarahi temannya yang tadi mendorongnya karena tak sabaran. Aku berdiri menahan rasa dongkol luar biasa. Untunglah ablah itu langsung memberiku muqarrar meski sempat marah-marah setelah diteriaki oleh teman Mesir tadi. Setelah menerima uang kembalian, terburu-buru aku meniti tangga menuju kelasku di lantai dua. Aku berdoa semoga Dukturah Nibel belum datang. Di depan pintu kelas aku mengatur nafas dengan dada bergemuruh. Aku mengintip lewat pintu yang sedikit terbuka.
Ya Allah...dukturahnya sudah hadir?! Desisku putus asa. Terlambat sudah, tak ada toleransi! Artinya aku harus siap menerima nilai maddah hadisku di ambang makbul  !

Aku menuruni tangga dengan hati nelangsa. Kuhirup udara segar sebanyak-banyaknya setelah berada di luar gedung kulliyah. Aku duduk di sebuah bangku kayu berusaha menenangkan diri. Dua jam bukan waktu yang singkat untuk sekedar duduk manis tanpa berbuat apa-apa. Aku bimbang, pulang atau tetap menunggu jam kuliah berikutnya. Aku tak memilih keduanya, kuputuskan untuk berkunjung ke rumah Alya sekalian memberinya muqarrar titipannya. Kurogoh saku jaket mencari ponselku. Seketika wajahku pucat mendapati ponselku sudah tak ada di tempat.

"Mungkin jatuh di tangga pas aku lari..." bisikku menenangkan diri padahal jantungku sudah berdebar tak karuan. Kusisiri lantai demi lantai, tangga demi tangga, namun hasilnya nihil. Aku berlari bolak-balik dari depan kelas dan tempat antrian tadi. Tak ada! Bayangan mahasiswi yang menabrakku tadi sewaktu antrian tiba-tiba memenuhi kepalaku. Astaghfirullah...aku tak bermaksud su'uzhan ya Allah! Kupijak anak tangga terakhir dengan sendi seakan lepas. Kerongkonganku tercekat. Airmataku turun satu-satu begitu saja.

"Sri? Gak kuliah?" tanya Alya setibaku di rumahnya. Aku menggeleng lemah. Matanya menatapku tajam, menelusuri sisa basah di pipiku.

"Ada apa? Kok sembab, gitu matanya?" tanya Alya sekali lagi. Aku terdiam. Kubuka tas dan kusodorkan muqarrarnya.

"Waahh..syukron nih, Sri. Oh ya, tadi aku bikin kolak, entar ya aku ambilin dulu."

"Gak usah, Al, aku buru-buru!" kataku sambil menelan ludah pahit. Dadaku terasa begitu sesak. Aku harus cepat pulang dan menangis sepuasnya di kamarku nanti.

"Sekali lagi syukron, ya," ucap Alya masih terheran melihat sikapku. Tanpa berani mengangkat muka, aku meninggalkan rumah Alya. Masih berbekas kalimat Alya tadi. Nanti kalau muqarrarnya turun, aku nitip dibeliin lagi ya! Andai aku tercipta menjadi orang paling jahat sedunia, tentu sudah dari tadi bibir ini memuntahkan semua kalimat serapah.

Enak ya main nitip aja, emang kamu tahu capeknya?! Emang kamu rasain gimana pegalnya antri di bawah terik? Coba tadi aku gak beliin titipan kamu, mungkin aku gak bakal lama nunggu ablahnya, mungkin aku gak bakal telat muhadharah, mungkin hpku gak akan hilang, mungkin....ah!

Tangisku kembali pecah. Nelangsa, marah, lelah dan sedih bercampur-aduk jadi satu, menembus batas hatiku yang putih. Aku menggigit ujung bibir, perih. Seperti perihnya hatiku yang telah berubah hitam saat ini.
* * *
Dua hari berlalu sejak peristiwa naas itu, aku berusaha bersikap biasa. Hanya Ishma dan Ai yang tahu kalau ponselku yang usianya baru sebulan itu lenyap. Aku tak ingin seluruh dunia tahu dan merayakan betapa malangnya nasib seorang Sri. Satu hal lagi, aku sudah trauma untuk kembali bersusah-payah antri di tempat "brsejarah" itu, apalagi menerima titipan oranglain.

"Ini muqarrar milal?" tanyaku kepada seorang teman Malaysia yang memegang muqarrar baru.

"Iye, baru turun."

"Belinya di tempat yang mana?" tanyaku lagi.

"Di ablah yang garang itu," sahut gadis itu dengan aksen Melayunya. Haha...garang? Mungkin maksudnya galak, ya? Bisikku tergelak sendiri. Mataku mencari sosok Ai untuk menitipkan uang pembelian muqarrar milal. Nampaknya dia sudah sibuk antri di ablah yang garang itu. Kuputuskan menyusulnya kesana untuk memberinya uang.

"Udah ada yang beliin kamu, kok," kata Ai membuatku kaget.

"Siapa?"

"Alya, itu tuh di baris depan," tunjuk Ai membuatku bertambah kaget. Aku menangkap sosok Alya yang tak memperhatikanku karena sibuk antri di tengah sesaknya manusia. Jilbabnya terlihat berantakan. Bukan karena himpitan orang-orang, tapi karena...beban di pundaknya?

"Sayang..sabar ya, mama bentar lagi selesai antrinya," ucap Alya menenangkan anaknya yang sedang sesenggukan di balik gendongannya. Kupandangi sosok Alya yang dewasa, yang sabar berdiri disana dengan pundak yang berat oleh tubuh bayinya. Alya yang baik hati, yang hatinya tak akan seputih hatiku. Aku bahkan tak percaya kalau aku diam-diam telah menodai kepercayaannya.

"Eh, Sri, kebetulan banget, nih muqarrarnya. Tadi sekalian aku beliin, soalnya kan susah antri disini," tegur Alya yang sudah berada di hadapanku dengan wajah lelah. Aku tak tahu harus berkata apa. Mulutku serasa dikunci.

Syukron Alya, kamu baik sekali...
Maafin sikapku yang kemarin...

Aku menelan ludah. Kalimat itu tertahan, hanya bisa bergema dalam hati, tak dapat kukeluarkan. Kutatap Rahman, anak Alya yang merengek kehausan.

"Sori, cinta, si dedenya rewel nih, aku cabut duluan, ya! Main ke rumah, ya!" seru Alya dengan senyum malaikatnya. Aku tiba-tiba merasa malu sendiri. Aku bahkan tak pernah meminta, tapi Alya mau bersusah-payah antri buatku. Pastilah Alya merasa tidak enak dengan sikap burukku waktu itu, sampai-sampai dia sungkan untuk menitip muqarrar lagi.

"Alya!" teriakku mengejarnya. Sebelum dia menoleh, aku telah memeluknya dengan mata basah.

"Jazakillah..." ucapku pelan. Hanya itu yang bisa kuucapkan padanya. Pada dia yang telah membuka hatiku untuk memaknai keikhlasan sebenarnya. (Dedicated to someone. For Sri, jazakillah, ya!).
* * *

kosakata bahasa Mesir:
thabur: antri

khalas..khals tigi bukrah: sudah...sudah...datang lagi besok!
Ya Ablah: panggilan umum untuk prempuan
muqarrar: diktat kuliah
ma'alesy: maaf
zahmah: ramai, sesak
Ya Ablah, bisur'ah: cepetan, Ablah!
Ammu: sebutan umum untuk laki2
muhadorah: jam kuliah 
syukran/ jazakillah  terima kasih

(dimuat di Buletin Marhalah el-Zeeda, "AKADEMIKA" edisi perdana April 2009)
 

Friday, August 28, 2009

JIDAT HITAM

Siraj terperangah menatap pantulan dirinya di cermin. Dia merasa betapa aneh wajahnya kini. Ada perubahan kecil disana yang sedikit mengundang keterkejutannya. Bukan pada jerawatnya yang kini perlahan mengundurkan diri dari permukaan pipi tirusnya. Bukan pula warna kulit wajahnya yang berubah lebih gelap dari sebelumnya karena efek musim panas. Tapi ada sesuatu yang lain, membuatnya tak habis pikir kenapa sesuatu itu bisa muncul di atas sana, tepat di jidatnya. Itu adalah titik hitam yang semakin lama semakin jelas!

“Wah, itu kan min atsarissujud, Raj,” komentar teman sekamarnya, Imam, ketika dia memperlihatkan perubahan di wajahnya itu.

“Ah, masa iya, Mam, sujudku kan biasa-biasa aja. Lagian aku juga jarang tahajjud,” ujar Siraj yang masih sibuk mengamati titik hitam di jidatnya.

“Ya, anggap aja tanda keberuntungan, Bro,” sambung Imam senyum-senyum.

“Tanda keberuntungan? Maksudnya biar semua dunia mengira kalau aku ahli shalat, gitu? Biar semua orang menilai aku orang alim?” tanya Siraj.

“Yup, maksudnya begitu. Tapi lebih pasnya, beruntung karena hitam di jidatmu itu bukan tai ayam, hehehe...” kata Imam yang langsung disambut senyum kecut Siraj.

Sebenarnya Siraj tak begitu ambil peduli dengan titik hitam di jidatnya itu, namun entah kenapa semakin hari titik hitam itu semakin membuatnya gusar. Awalnya, hanya ada satu titik di atas jidatnya yang cukup lebar. Lama-kelamaan titik hitam itu bertambah tiap minggunya hingga sekarang dia bisa melihat tiga titik hitam disana. Hanya tiga titik! Dan Siraj sudah merasakan dampaknya selama beberapa hari ini.

Ketika menghadiri acara temu alumni pesantrennya, mendadak dia ditunjuk menjadi pembaca doa di penghujung acara. Tentu saja itu membuatnya terheran-heran. Padahal selama ini, Siraj tak pernah tampil di depan khalayak ramai di sebuah acara bahkan untuk berperan sebagai pembawa acara sekalipun. Namun sejak orang-orang dengan jelas dapat melihat jidat hitamnya, Siraj terhitung sudah dua kali menjadi tukang baca doa di dua acara.
“Orang yang rajin tahajjud kan doanya makbul, Raj,” celutuk ketua panitia yang menunjuknya. Dan dengan wajah tak berdaya dia harus menerima peran itu.

Dua hari yang lalu, Fatimah, adik kandungnya datang ke imarahnya untuk menagih uang kiriman orangtua mereka. Betapa terperanjatnya Siraj saat Fatimah bercerita tentang teman-teman buusnya yang tak luput membicarakan dirinya.

“Temanku banyak yang pengen kenal ama Kakak, tapi mereka agak segan,” kata Fatimah sambil menyeruput ashirnya.

“Segan gimana, Dek?”

“Mereka bilang kalau Kakak tuh ikhwan banget, gak suka liat cewek agresif yang mau kenal duluan,” sahut adiknya. “Padahal Imah udah bilang kalau Kakak tuh orangnya biasa aja, gak seperti yang mereka kira.”

“Emang temanmu itu tahu kalau cowok itu alim banget atau nggaknya darimana?” tanya Siraj yang sudah mengira-ngira jawaban adiknya nanti.

“Katanya sih dari penampilan Kakak. Salah satunya wajah Kakak yang beda itu,” kata Fatimah seraya mendekat ke wajahnya lalu menonjok jidatnya. Mulut Siraj meringis seperti hatinya. Untuk kesekian kalinya dia merasa nelangsa, namun dia tak mengungkapkan kegelisahannya itu ke Fatimah.

Dirinya bangkit menuju cermin, terpaku di depan sosoknya sendiri. Matanya masih seperti yang dulu, begitupun hidung dan pipi kurusnya. Dan seharusnya orang-orang juga menilainya masih Siraj yang dulu. Sekali lagi dia mengamati wajahnya dan mendadak rasa sebal menyelimuti hatinya ketika melihat tiga titik hitam yang tersenyum di jidatnya. Tiba-tiba Siraj melihat dirinya berkalungkan tasbih raksasa dengan kain jingga lusuh yang melilit di badannya. Ya, dirinya sudah seperti biksu sekarang! Entah sosok apalagi yang bakal dibayangkannya kalau titik hitam itu bertambah lagi.

Kenapa harus jidat hitam? Kenapa bukan kaki yang bengkak memerah atau kulit tangan yang kepal? Atau kalaupun ada orang yang benar-benar menghabiskan sepanjang malamnya dengan beribadah, kenapa manusia sekelilingnya tak melihat aktualisasi shalat dalam perilakunya? Dan satu lagi pertanyaan yang membuatnya gusar, kenapa harus dia yang memiliki tipe jidat seperti ini? Imam sekamarnya yang lebih rajin tahajjud, lebih lama kalau sujud, lebih alim, dan lebih lainnya, jidatnya bahkan tetap biasa-biasa saja. Tak ada guratan hitam disana seperti jidatnya sekarang. Dan begitu irinya Siraj melihat Imam yang tetap santai menjalani semuanya tanpa harus disibukkan oleh persepsi orang-orang.

“Nah, gimana pendapatmu tentang penampilan baruku, Mam,” tanya Siraj di awal pagi itu. Imam yang sedang sibuk membaca muqarrarnya menoleh dan hampir tergelak melihat wajah Siraj.

“Masya Allah, Bro, sejak kapan kamu mengubah gaya rambutmu? Tapi kok jadi aneh ya,” komentar Imam melihat beberapa helai rambut Siraj yang sengaja dijatuhkan ke depan dahinya.

“Ini buat nutupin jidatku, Mam,” sahut Siraj. Imam menatap wajah temannya itu dan menangkap kegelisahan disana.

“Kalau aku boleh usul, sebaiknya kamu minta solusi yang lebih tepat ke Ustadz Arif, deh,” kata Imam. Siraj terdiam dan kemudian memutuskan untuk mengikuti saran Imam.

Keesokan harinya dia sudah berada di rumah Ustadz Arif yang dulu pernah menjadi seniornya di pondok. “Saya merasa kalau akhir-akhir ini ibadah saya awut-awutan, Tadz,” curhat Siraj.

“Setiap orang pasti mengalami fluktuasi keimanan, Raj. Itu hal yang wajar, yang penting kamu mau bangkit kembali,” sahut Ustadz Arif.

“Masalahnya Tadz, saya ngerasa udah gak ikhlas lagi. Saking gusarnya saya bahkan gak pernah bangun tahajjud lagi, padahal dulunya aja udah jarang.”

“Siraj, saya yakin kamu sudah hafal kalimat yang mengatakan anjing menggonggong kafilah berlalu. Saat ini kamu sedang diuji oleh pandangan manusia, tergantung kamu mau terpengaruh oleh persepsi itu atau tidak. Bisa jadi memang, penampilan luar manusia menjadi fitnah ataupun menjadi ujian bagi pribadinya.” Siraj mengangkat kepalanya, menatap wajah teduh dihadapannya. Kata-kata Ustadz Arif dirasakannya bak telaga yang membasahi jiwa keringnya kembali. Dia pun pamit pulang dengan dada lega.

Ustadz Arif benar. Satu hal yang luput dari dirinya selama ini adalah dia begitu berlebih-lebihan dengan perubahan kecil yang terjadi di wajahnya. Dia juga menganggap masalah besar perubahan persepsi orang-orang di sekitarnya. Seharusnya dia menganggap semua itu sebagai motivasi bukan intimidasi! Seharusnya dia tak melarikan kekesalannnya pada sesuatu yang merugikan, sampai-sampai ibadahnya yang menjadi tebusan! Sudah beberapa minggu shalatnya amburadul karena memikirkan jidatnya yang menghitam.

Malam itu Siraj sudah bisa tidur dengan pikiran tenang. Tepat jam tiga alarm Siraj berbunyi, mengajaknya menghadap Sang Pengampun Dosa. Untuk pertama kalinya dia bersujud begitu lama. Keheningan malam dan rasa khusyuk beradu memenuhi diri Siraj. Airmatanya berlinang perlahan membasahi sajadahnya. Ketika bangkit dari sujud terakhirnya, azan Shubuh berkumandang. Dia bangkit untuk memperbarui wudhunya. Tiba-tiba dia terpaku mendapati wajahnya di cermin di atas wastafel. Tiga titik hitam itu tak bertambah. Titik hitam yang sudah menodai hatinya selama ini telah hilang tanpa bekas.
* * *

(Dimuat di Buletin ADDARIAH (Almamater DDI di Mesir), edisi 01 Agustus 2009)

Thursday, August 27, 2009

BUKAN ILALANG

Debu-debu gurun berganti tanah yang nyaris becek. Udara musim panas negeri Musa berubah menjadi hawa gerah bandara Jakarta meski sehabis hujan. Manusia berjubah hilang tersapu wajah-wajah borjuis, perlente, dan sebagian lagi masih tetap ramah. Duhai zamrud hijau yang kini tak berkilau, ucapkan selamat datang untukku!

Dua jam kemudian, langit keruh berganti biru dan putih. Kuhirup udara dalam-dalam, masih kampung yang sama saat kutinggalkan. Masih jalan kecil yang penuh kotoran hewan dan bukit-bukit hijau di kejauhan. Tak ada yang berubah setelah empat tahun. Hanya beberapa sawah berubah empang. Sapa matahari tetap ramah seperti wajah Bapak dan Ibu yang menyambutku di depan rumah. Aku tunduk mencium tangan keduanya dengan mataku yang mulai basah. Kerinduan yang kusimpan bertahun-tahun raiblah sudah.

“Kamu tambah cantik, Nak,” komentar Ibu pertama kali. Kulihat Bapak juga mengangguk membuatku tersipu tanpa kata. Benar kata orang, di depan orangtua kita terkadang masih seperti anak berusia lima tahun.

“Aku bawa kurma buat Bapak.” Wajah Bapak nampak sumringah. Sejak Bapak naik haji, kurma adalah salah satu makanan favorit yang selalu dirindukannya.

“Kamu sudah pulang saja sudah membuat kami senang,” sahut Bapak membuatku terharu. Aku beranjak ke dalam kamar dan membereskan koper-koperku setelah puas bercerita dengan mereka. Aku memandang sekeliling, letak barang di kamarku bahkan tak berubah. Kuraba meja kecil di sudut kamar, tak ada debu. Pastilah Ibu setiap hari merawat kamar ini. Kurebahkan badanku yang penat di atas ranjang. Kupejamkan mata lalu tak lama aku tertidur.
* * *
Jika kau adalah wanita, maka laksana bunga kamu akan tetap tertancap dalam tanah tanpa harus terbang mencari para penghisap madu. Kamu hanya akan menunggu dan menunggu hingga wangimu tercium oleh seekor kumbang. Namun tak selamanya kumbang pertama yang hinggap di pucuk bunga akan tertarik menghisap manismu. Dan wanita….diciptakan untuk lebih banyak bersabar dan tegar.

Mataku menerawang, menerobos padang rumput di samping rumah. Dadaku masih saja bergemuruh seperti tadi malam. Tak kusangka, berapa banyak mahasiswa Kairo yang kukenal, tak satupun yang kelak menjadi pangeranku. Pangeran yang kunantikan ternyata seorang putra pemangku adat di kampungku yang katanya sarjana pertanian terbaik di angkatannya.

Ah, Citra, betapa sayangnya kalau kamu hanya akan menjadi istri seorang sarjana pertanian setelah empat tahun di luar negeri. Mungkin begitu komentar teman-temanku kalau berita pernikahanku menyebar seantero Mesir. Belum lagi idealisme yang selama ini kugembor-gemborkan selama jadi aktifis. Seorang aktifis hanya akan menikah dengan seorang aktifis pula! Dan di hadapan kedua orang yang selama ini memeras darah dan keringat untukku, idealisme itu terpaksa kukubur hidup-hidup. Memang kedengarannya tragis, tapi aku tak sanggup melawan wajah-wajah yang penuh harapan itu. Lidahku kelu jika harus berhadapan dengan dua sosok yang ridha mereka menjadi ridha Allah juga. Ini bukan debat atau rapat panitia yang biasanya aku akan menjadi vokal disana. Ini masalah hidup dan masa depan.

“Orangnya baik dan rajin ke mesjid. Dia akan menjadi suami yang cocok untukmu.”

“Selama ini Datuk sudah banyak berjasa, sawah Bapakmu itu juga pemberian beliau, Nak.”

“Tapi semua terserah kamu, mungkin kamu punya lelaki pilihan lain yang lebih baik.” Yah, itulah masalahnya, aku tak punya calon pilihan sendiri. Selama di Kairo aku terlalu asyik dengan kesibukanku di organisasi. Belum lagi konsentrasi akademisku demi mempertahankan gelar ‘the best” yang setiap tahun kuraih.

“Citra percaya dengan pilihan Bapak dan Ibu. Tapi…” kalimatku terputus. Aku menelan ludah pahit. Kucoba menatap wajah keduanya dengan sisa-sisa ketegaran yang kupunya. Setidaknya aku tak sekedar menerima barang jadi, pikirku.

“Tapi apa, Citra?” tanya ibu membuatku semakin gugup.

“Citra ada dua syarat.” Aku mengatur nafas sebelum melanjutkan kalimatku. Kulihat Bapak dan Ibu saling berpandangan. “Pertama, Citra tidak mau melihat wajah calon pendamping Citra sampai waktu akad. Kedua, Citra tidak mau berpakaian adat tanpa jilbab.” Aku menarik nafas lega. Akhirnya aku bisa mengutarakannya juga.

“Kalau kami tak ada masalah, Nak. Masalah ini akan kami rundingkan dengan Datuk Jarre,” kata Bapak menutup pembicaraan.

Angin pegunungan membelai ujung welua’ku yang panjang, membuatku tersadar kembali. Apalah jadinya kalau rambut indah yang selama ini kututup rapi menjadi tontonan orang banyak? Bagaimanapun aku seorang sarjana Syariah, dari Azhar pula! Aku boleh tunduk bersami’na wa atha’na di hadapan orangtua, tapi agama tak boleh jadi korban adat. Selama ini, betapa banyak teman-teman yang mengeluh ketika harus berhadapan melawan adat di kampung masing-masing. Tak sedikit dari mereka yang harus kalah dan menyerah. Memang mudah berteori, tapi tingkat keberhasilan dalam praktik mungkin 1:10. Di dunia para akademisi, kita akan mudah mendapatkan teman untuk berjuang dengan ide yang sama. Tetapi disini, di tengah penduduk yang kolot, kamu akan berjuang sendiri!

Azan Ashar memecah percakapan batinku. Ibu dan Bapak belum pulang dari rumah Datuk. Entah apa hasil keputusan mereka, pastinya aku hanya mampu berdoa semoga semuanya berjalan lancar.
* * *
“Citra tidak mau!” Akhirnya kesabaranku habis juga. Terkadang wanita harus berbicara dengan emosi agar semuanya bisa mengerti. Tapi mengapa hati ini begitu sakit? Aku sudah menuruti segala permintaan mereka, seperti anak kambing yang patuh pada gembalanya. Namun keinginanku yang sederhana ditolak mentah-mentah hanya karena alasan “ini sudah tradisi”!

“Tenanglah, Nak, bagaimanapun Bapak sudah mencoba memberi pengertian ke Datuk sesopan mungkin. Syaratmu yang pertama mereka dapat kabulkan, tapi masalah pakaian adat itu…” Kupandangi wajah Bapak yang membiaskan garis kecewa. Aku menggeleng, mataku perlahan mulai basah karena emosi yang memuncak. Ibu memegang tanganku erat, mencoba menenangkanku.

“Mereka bilang kalau ini bukan masalah selama teman-temanmu tak ada yang melihat. Teman-temanmu hanya diundang di acara resepsi…”

“Citra berjilbab bukan karena mau dilihat orang, Pak. Bapak dan Ibu bilang kalau mereka keluarga yang rajin shalat. Anaknya bahkan seorang sarjana. Lalu semuanya dikemanakan? Sudah jelas-jelas dalam Al-qur’an perintah berjilbab yang mungkin berapa kali mereka dengar dan baca setiap saat. Pokoknya Citra tidak mau menikah kalau syarat kedua tidak dipenuhi!”

“Citra!” Suara Bapak menggelegar menembus jantungku. Baru kali ini Bapak bersuara setinggi itu. Di matanya aku menangkap kemarahan. Mungkin Bapak akan bilang kalau aku anak durhaka, anak matojo, dan segala gelar yang mengalahkan gelar Lc yang kudapatkan susah-payah. Masa bodoh dengan semuanya. Bukankah aku sudah begitu toleran dengan bersenang hati memakai pakaian adat itu kelak? Aku hanya meminta tambahan jilbab di kepala, hanya itu!

“Keputusan sudah harga mati, Citra. Jangan sampai perasaan kami terluka oleh nama keluarga yang tercemar. Camkan itu!” Bapak bangkit meninggalkanku yang lebih terluka. Ibu memelukku bersama tangisnya.

“Maafkan Ibu, Nak..” Aku mengangguk pasrah. Kuhapus perlahan airmata wanita yang membesarkanku dengan penuh cinta itu. Wanita yang begitu taat pada suaminya sampai harus mengorbankan kecintaannya terhadap putri tunggalnya ini. Seorang putri tunggal yang juga sama tak berdayanya. Aku tergugu dan segalanya terasa gelap. Aku pasrah dan seluruh idealisme yang kupertahankan telah kalah.
* * *
Dan hari itu telah tiba. Seperti boneka, aku duduk di hadapan cermin dengan wajah berpoles lapisan bedak. Seandainya airmataku masih tersisa, aku ingin menangis selamanya karena dengan itu mataku tak dapat melihat rupaku sekarang. Kepalaku yang setegak tanduk iblis dengan besi-besi emas yang mengeraskan leher menambah lukaku semakin perih. Telingaku yang dibebani anting-anting seberat karung dan alisku yang habis, membuat seakan-akan kesucianku tergadai sudah. Ini bukan lagi pesta indah buat Cinderella yang malang, ini adalah upacara kematian harga diri seorang wanita, jeritku dalam hati.

“Nak, bersiaplah keluar, mempelai pria telah tiba.” Ucap Mak Inang, saudari Ibuku yang juga menjadi periasku. Aku berdiri, berjalan dengan kaki dingin dan kaku. Hatiku gemetar dan sebentar lagi mungkin akan mati. Kilauan wala soji menjadi saksi ketidakberdayaanku. Aku tak berani mengangkat muka. Tamatlah sudah. Ingin rasanya menghilang dari dunia ini sekarang. Telingaku tak lagi mendengar kata-kata pujian. Di sekelilingku, aku hanya menangkap hiruk-pikuk tepuk tangan iblis.

Kosakata bahasa Bugis:
Matojo: keras kepala, pembangkang
Wala soji: kursi pelaminan
Welua’ : rambut

Catatan: Pemenang pertama Lomba Cerpen Pekan Keputrian Wihdah_PPMI Mesir 2008