Minggu, 30 Agustus 2009

HUJAN DI PELUKAN AYAH

Seorang sastrawan besar Norwegia yang juga peraih nobel sastra, Bjornstjeme Bjornson, pernah menulis kisah tentang seorang ayah dan anak. Sang Ayah yang kaya raya, awalnya bahagia dengan kecemerlangan buah hatinya. Baginya, harta tak ada apa-apanya dibanding anak tunggalnya itu. Setiap saat, Sang Ayah bercerita tentang anaknya kepada seorang pendeta. Hingga suatu ketika, di sebuah malam yang tenang, anak tunggal kebanggaannya itu tenggelam di depan batang hidungnya sendiri. Sejak kematian putranya itu, Sang Ayah sangat menderita dan garis kejayaan di wajahnya telah hilang dalam sekejap.

“Dan di akhir kisah, Sang Ayah mendermakan separuh hartanya untuk orang-orang miskin atas nama putranya.” Kata Ayah mengakhiri dongengnya malam itu. Aku menguap lebar bersiap untuk tidur. Tapi aku ingin tidur di pelukan Ayah seperti malam sebelumnya.

“Minta izin dulu sama Ibu.” Aku mengangguk dan sambil terkantuk-kantuk aku membuka pintu kamar Ibu. Kulihat Ibu masih sibuk menyelesaikan rajutannya.

“Ibu, malam ini Adek mo pinjam Ayah. Boleh ya?” Rengekku. Ibu tersenyum di antara wajah letihnya. “Boleh sayang, tapi ada bayarannya loh.” Goda Ibu menepuk-nepuk pipi bulatku. Aku mengerti apa yang dimaksud Ibu dengan “bayaran” itu. Aku menjinjit dan meraih kepala Ibuku yang cantik. Mmmuaah.

Aku kembali ke kamarku dan kudapati Ayah yang sudah terbaring dengan mata terpejam. Aku mengendap-endap menuju samping Ayah, menjaga agar dia tidak terbangun. Kuraih selimutku dan kunyalakan kipas angin. Aku tak bisa tidur tanpa mesin itu. Aku memeluk Ayah seakan dunia sangat aman di dalam peluknya.

Aku tak tahu kapan tepatnya aku terlelap. Aku juga tak tahu bahwa malam itu sebenarnya Ayah hanya puara-pura tertidur. Sebab tengah malam, saat kuterbangun untuk buang air, aku tak lagi mendapati sosoknya di sampingku.
* * *
Hari ini aku bukan lagi seorang anak yang berumur tujuh tahun. Hari ini, aku Rimaya Rahmah, dengan mata berbinar meniup tujuh belas lilin yang ada diatas kue ultahku. Di sampingku Ayah dan Ibu tersenyum sebagaimana senyum bahagiaku.

Kata orang, umur tujuh belas adalah tangga pertama menuju kedewasaan. Tapi bagiku tak ada yang berubah, khususnya antara aku dan Ayah. Aku tetap melewatkan malam bersama cerita-cerita Ayah yang klasik, menikmati elusannya di kepalaku sebelum kutertidur, dan menatap senja di ujung bukit bersamanya. Aneh ya? Seharusnya anak sebayaku sudah sibuk dengan dunia barunya atau paling tidak membicarakan cowok keren di sekolah. Ah, peduli amat kata orang!

“Ayah!” teriakku sambil membuka sepatu terburu-buru sepulang sekolah. Ayah yang sedang sibuk membaca kitab buat pengajian, terheran melihatku. Aku duduk di sampingnya, menyodorkan sebuah koran harian edisi hari itu.

“Lihat ini!” Tanganku menunjuk sebuah kolom sastra di koran itu. Lama aku menunggu kalimat Ayah dengan dada berdebar-debar. Pasti Ayah bahagia sekali, pikirku. Pasti Ayah akan bilang kalau aku adalah anaknya yang hebat. Setelah itu Ayah akan memberiku hadiah dan…

“Selamat ya, Nak.” Kata Ayah pendek membuatku tercengang. Cuma itu? Aku meneliti wajah Ayah, mencari makna di balik ekspresi datarnya. Tapi, raut muka Ayah begitu biasa!

“Kok cuma selamat?” protesku tersendat.

“Lalu mau apalagi, Sayang? Mau dikasih hadiah ya? Hadiahnya…ehm..nanti malam Ayah punya cerita yang bagus.” Sambung Ayah membuatku sedikit kecewa. Aku berusaha menyembunyikan kekesalan hatiku. Maya, kamu tak boleh begitu. Lagian, tulisanmu di Koran itu belum ada apa-apanya dibanding Bjornstjeme Bjornson, penulis hebat yang Ayah sering ceritakan itu. Mungkin belum saatnya Ayah bangga padaku.

Saat itu aku sama sekali tak tahu bahwa sebenarnya Ayah yang beranjak tua, terlalu bahagia untuk menampakkan perasaannya padaku. Aku sungguh-sungguh tak tahu perassaan Ayah saat kuperlihatkan tulisan pertamaku di koran itu. Sampai dua hari sesudahnya, Ibu bercerita padaku. Ketika Ayah dan Ibu berkunjung ke rumah Bapak Bupati, semua orangtua berbicara mengenai anaknya masing-masing. Ketika tiba giliran Ayah bercerita, ekspresi Ayah mendadak berubah cerah. Matanya berbinar-binar dan dengan bangga mengatakan kepada semua orang bahwa putrinya adalah calon penulis penuh bakat.

“Benarkah itu, Bu?” Tanyaku seakan tak percaya.

“Iya, Sayang.” Mataku berkaca-kaca mendengar penuturan Ibu. Jadi, Ayah bukannya tak bahagia sama sekali waku itu, malah sebaliknya Ayah sangat bahagia?

“Ayahmu tidak mau kamu cepat puas dengan tulisanmu. Makanya, dia menutupi luapan bahagianya di hadapanmu, Nak. Ayah tak ingin kamu berubah sombong,” lanjut Ibu lembut.

Aku menghapus airmataku dan berlari ke belakang rumah. Di belakang sana, di dekat kandang sapi Ayahku, aku tertegun lama. Aku menatap punggung Ayah dari belakang. Aku kembali menangis dan entah kenapa aku merasa bahwa Ayah sangat menyayangiku.
* * *
Pernah ada orang yang mengatakan padaku bahwa seorang Ayah hanya akan meneteskan airmata karena anaknya. Awalnya aku hanya tersenyum mendengar kalimat itu. Kalau aku mengingat-ingat semua kebersamaanku dengan Ayah, tak pernah sekalipun aku melihatnya menangis. Berbeda dengan Ibu, nyaris semua momen Ibu selalu menangis. Mungkin itulah yang aku warisi dari Ibu. Aku orang yang mudah sekali tersentuh.
Ternyata benar kata orang itu, seorang Ayah hanya akan menangis karena anaknya.

Saat itu kalau aku tak salah ingat, aku sudah tamat Aliyah. Dengan seragam wisuda, aku duduk di barisan para siswi yang akan ditamatkan. Mataku mencari-cari sosok Ayah dan Ibu di tengah riuhnya para undangan. Ternyata mereka duduk di kursi paling depan.

Acara demi acara berlalu dengan cepat. Aku sudah tak sabaran menunggu acara wisuda dimana para pelajar dengan bangga naik ke atas panggung. Sebelum acara wisuda dimulai, akan ada pengumuman siswi terbaik setiap tingkatan. Jantungku berdetak lebih cepat mendengar nama-nama itu disebutkan. Saat peringkat kedua disebutkan, dadaku serasa naik turun. Oh, ternyata bukan aku.

“Peringkat pertama tingkat Aliyah diraih oleh…” Nafasku terjepit diantara sekat-sekat jantungku yang menyempit.

“Rimaya Rahmah Binti Sulaiman.” Tepuk tangan memekakkan telinga. Aku berdiri dengan tegang dan menaiki tangga panggung dengan sejuta rasa. Rasa-rasanya tangga yang kupijak akan runtuh ke bawah. Seluruh sendiku bergetar. Serasa mimpi! Tanganku dingin saat Gubernur memasangkan selempang ke pundakku. Aku meneteskan airmata bahagia ketika menerima hadiah dari Bapak Pimpinan Yayasan. Aku berbalik dan Ya Allah…itulah hari yang takkan pernah hilang dari memoriku. Aku melihat Ayah dengan muka penuh guratan hidup dan uban yang menyembul dari balik pecinya membalas tatapanku dengan mata basah. Ini kupersembahkan untukmu, Ayah, bisikku penuh haru.
* * *
Matahari masih separuh seperti enggan lekas pergi ke balik malam. Langkahku pelan mengiringi langkah lebar Ayah. Aku terdiam menatap jalan yang penuh kotoran sapi. Di ujung jalan kutangkap atap rumahku yang kehijauan oleh lumut. Ayah terlalu sederhana, tak pernah sedekitpun ia berkeinginan merenovasi rumah kecil kami.

“Jadi kamu mau lanjut ke Mesir?” Tanya Ayah memecah keheningan kami. “Insya Allah, Yah. Itupun kalau Ayah setuju.”

“Kok malah nunggu Ayah setuju, Nak? Yang mau jalanin kan kamu.” Tukas Ayah tertawa kecil.

“Yeee…Ayah,” aku menggamit lengan Ayah seperti anak kecil, “kali aja Ayah gak mau melepas aku jauh-jauh. Klo Ayah kangen, susah kan ngobatinnya?” Godaku memancing reaksi Ayah.

“Itu sudah resiko orangtua, Nak. Laksana sopir angkot, suatu saat sang sopir harus sabar menerima jika angkotnya kosong.” Aku menelan ludah mendengar kalimat Ayah barusan. Kalimat yang kutangkap sebagai ungkapan kesepian.
* * *
Kalaupun ada detik, aku ingin detik itu tiada. Jikapun menit tak ingin berlari, akulah yang akan menghilang dari dimensi waktu. Tanganku masih erat menggenggam jemari Ayah. Begitu dingin menusuk ke dalam hatiku. Bahkan Ibu tak berhenti menangis di sampingku. Aku merasakan tenggorokanku sangat pahit. Kutelan semua airmataku. Aku tidak mau menangis di depan Ayah dan Ibu.

“Hati-hati di negeri orang. Jaga pergaulan, Nak. Di Mesir itu pelajar putra lebih banyak daripada putrinya. Seorang gadis, kasarnya, seperti umpan segar buat serigala. Siap-siap aja jadi pusat perhatian…” canda Ayah diiringi tawa khasnya. Aku hanya bisa tersenyum. Aku takut tertawa, nanti airmata yang kutahan berhamburan tak berhenti. Ah, Ayah, masih sempatnya bercanda di saat seperti ini.
Aku mencium tangan Ibu. Jilbabku basah oleh tangisnya.

Aku beranjak ke hadapan Ayah. Ayah menepuk-nepuk bahuku lalu berbisik:” lesung pipi putriku ini harus utuh saat pulang nanti.” Aku tersenyum kecut lalu mendorong troli menuju gerbang check in.

Aku tak menoleh sedikitpun. Detik ini jiwaku tinggal sepotong, aku tak mau menyisakannya sepotong lagi. Koper-koperku telah masuk dan menunggu tanganku menjemputnya. Tiba-tiba kurasakan tubuhku ditarik keras. Aku berbalik dan jatuh ke pelukan Ayah yang tadi terengah-engah mengejarku. Airmataku akhirnya tumpah juga. Aku menangis sejadi-jadinya seperti seorang bayi. Ya Rabbi, empat tahun bakal serasa seabad buatku!

“Aku bangga padamu, Nak” Kata Ayah sebelum melepas pelukannya. Kata-kata itulah yang selalu kukenang hingga detik dimana kisah ini kutulis untuk kalian.
* * *
(dimuat di buletin Senat FSI AL_MINHAJ, edisi Nov 2007)

catatan: cerpen ini dihadiahkan kepada seorg "calon bapak" di hari ultahnya, ehem..namanya rahasia! ;)

1 komentar:

Arina mengatakan...

Assalamu'alaikum, Mbak Maya ^^
(bener gak nih manggilny gini?)
Hehe.

Mbak, to be honest,
Tdiny saya ngenet smbil buka byk tab.(facebook,plurk,twitter,gmail,YM, sm MSN saya)
Tp pas saya masuk paragraf ke7,
Saya refleks menutup semua tab yg saya buka,
Dan saya cm nyisain satu tab,
Yaitu postingan ini.
Hwhw.
*terhipnotis utk yg pertma X)
~~~

trus, tdiny saya kira dikutip dri mana gt,
(dikutip dri tulisan Bunda Helvy, atau syp),
Trnyta kisah mbak sndiri.
:lol:
*ok, terhipnotis utk yg ke2 X) ^^
~~~

Next, saya doain mbak smgat trus y buat nulis :))
Amin.
and pliz make me spend my time to read a novel written by ''aliashadi mayyadah'' someday in d future.
d(^^)b
*nah, kali ini gak kehipnotis lagi. Hehehe*

Keep writing,
Arina
^-^

NB : tukeran link? Hayuuuuuks dah :D