Senin, 31 Agustus 2009

SANG PEMENANG

Akhirnya aku selesai ujian juga. Rasanya….PLONG! Wah-wah ketahuan, ternyata aku adalah satu diantara beberapa jumlah kepala masisir yang masih menganggap ujian itu beban. Kenapa yah, aku merasa kalau ujian itu seperti perang, dan aku adalah prajurit rendahan yang dipaksa meras otak selama sebulan.

Bayangkan, sebulan! Itu artinya 30 hari, 720 jam, 43.200 menit, dan 2.592.000 detik!!! Hitung-hitung ada puluhan bungkus cemilan yang kuhabiskan demi menemani hari-hariku yang penuh kerja keras (baca: kerja paksa), ada malam-malam menegangkan yang penuh emosi, siang-siang membakar yang memicu adrenalin semakin panas. Dan semua itu belum cukup tanpa menyebut jumlah kocek yang kuhabiskan demi menelpon orangtua di seberang sono, sms ke teman-teman mohon pengampunan dosa, biaya fotokopi talkhisan, de-el-el yang sudah mencapai batas min haitsu la yahtasib.

Ada lagi yang lumayan aneh di musim imtihan, semoga hanya aku yang mengalaminya. Terus terang yah, yang namanya tahajjud alias shalat malam biasanya cuma bisa dihitung jari di hari-hari biasa. Di hari-hari luar biasa, wah, terjadi perkembangan yang cukup drastis saudara-saudara! Meski mata kadang tak mau diajak kompromi, bayangan azab “rasib” selalu menjadi supporter terkuat demi menjaga agar sepertiga malam tak berlalu begitu saja. Siapa lagi yang Maha diatas manusia, denganNya diri dan hati selalu berharap bahwa semua perjuangan di medan perang tidak akan sia-sia. Namun sayang, kebiasaan hebat ini hanya bertahan sebulan, atau paling tidak sampai natijah turun, dan setelahnya...wallahu a’lam. Addaaa aja!

Ngomong-ngomong, aku bersyukur masih punya kesadaran tingkat tinggi untuk belajar, masih tergolong mahasiswi yang berorientasi “pulang cepat dan secepatnya”, masih punya jiwa pejuang yang ogah dibilang menyerah sebelum berperang. Kalau Ririn, temanku yang seimarah….

“Biar lambat asal selamat, Ra, lagian hidup di Mesir itu cukup menjanjikan..” komentarnya santai. Memang sih, dia najah terus meski nyerempet-nyerempet bahaya. Tahun kemarin dia manqul dua, tahun sebelumnya makbul.

“Menjanjikan? Maksudnya?” tanyaku waktu itu.

“Itu..tuh..tiga kata..aman, murah, dan musaadah..” jawabnya tersenyum simpul. Aku memasang wajah manyun, ”maunya bukan aman, murah, dan musaadah, tapi melenakan, membahayakan, dan menjadi-jadi.” Aku berlalu meninggalkan si Ririn yang masih bingung dengan kalimatku.

Lain Ririn, lain Amnah. Anak itu otaknya entah pentium berapa, belajarnya sih sambil tiduran, kuliah lebih jarang dari aku, tapi herannya dia bisa jayyid jiddan dua tahun berturut-turut. Jadwal belajarnya tak ada yang tahu. Begadang pun tidak, kalau ba’da shubuh matanya sudah lima watt.

“Bagi dong rahasianya, Na” pintaku penasaran. Seperti biasa, dengan gayanya yang “cool” itu, Amnah cuma tersenyum.

“Aku tak punya rahasia apa-apa, Ra. Tiap orang kan tipe belajarnya beda-beda. Kalo aku yang penting kualitas, bukan kuantitas.” Sahutnya enteng.

“Aku bukan orang yang betah menghapal sampai berjam-jam, sampai pantat kempes, aku lebih suka membaca sedikit tapi paham. Jadi, pas imtihan, aku menulis jawaban pakai ta’bir sendiri,” jelasnya membuatku melongo. Resepnya Amnah memang ampuh, tapi aku tak bisa seperti itu. Maklumlah, bahasa Arabku aja pas-pasan, otakku apalagi, tipe celeron asli. Ketik C spasi D “cape’ dech”.

Pernah suatu hari aku berniat belajar ke mesjid Azhar sekalian belanja dapur di belakang mesjid. Lumayan, disana mesjidnya adem dan hammamnya bersih. Di sudut mesjid kutangkap sesosok mahasiswa yang tak lain seniorku dulu di pondok. Sampai sekarang aku masih memanggilnya Ustadz Hasyim, padahal umurnya cuma terpaut setahun dariku.

“Imtihan kapan, Tadz?” tanyaku basa-basi. Kepalanya menengadah, berhenti membaca dan menatapku heran.

“Eh, Rani, kok disini?”. Aku nyengir, ini orang malah balik tanya. Niatnya aku ingin cepat-cepat menghilang dari situ.

“Mau belajar..”sahutku pendek.

“Sama dong. Ustadz juga mau talaqqi hari ini. “ Aku tersenyum lalu buru-buru pamit, sempat kubaca judul kitab yang dia pegang “Fathul Barii”. Ampun, kirain dia lagi sibuk belajar muqarrar. Subhanallah..musim imtihan masih sibuk talaqqi, bisikku. Ada juga tipe yang seperti ini. Masalah akademik atau najah nomor belakangan, yang penting talaqqi tidak pernah absen. Ke Mesir mencari ilmu, bukan mengejar najah, itulah semboyannya. Ustadz Hasyim itu malah sudah diambang mafsul. Tapi, mungkin ilmunya dah segudang, pikirku berhusnuzhan. Masih bagus waktu habis buat talaqqi, daripada nonton bola? Piala Eropa lebih menarik dibanding imtihan, seperti kata Arman, si maniak bola.

Begitulah, begitu banyak cerita di balik musim imtihan. Namun, tak ada yang lebih dramatis dibanding dengan musim penantian natijah. Ada yang berusaha menyembunyikan stress dengan ikut rihlah sana-sini. Ada juga yang saking tegangnya sampai berat badannya turun seperti Kak Marti. Ada juga yang begitu tenang dan optimis. Kalau aku, pelampiasannya lari ke internet. Jangan salah, 70 % dijamin bukan buat chating, tapi aduh..malu ngomongnya..nonton blockbuster. Maklum, di imarahku tak ada tivi atau net.

Tak terasa, hari terus berlari bersama detak jantung yang turun naik. Penantian itupun berakhir sudah. Dan jikapun hanya selembar kertas yang bertorehkan tinta “nasib”, airmata bahkan sanggup mengaburkan segalanya. Teman-teman yang tampil sebagai pemenang, hanya ada satu kata, BAHAGIA.

“Ra, kamu najah, jayyid, selamat yah” ucap Amnah yang kebetulan melihat natijahku. Dadaku sesak. Haru.

“Wallahi, Na? Kamu juga pastinya jayyid jiddan lagi,kan?” sahutku setengah serak di peluknya.

“Gak, aku juga jayyid..” ujarnya dengan wajah berubah mendung, “Alhamdulillah, yang penting kita najah bareng..” tambahnya tiba-tiba semangat. Kami berpelukan dan melompat seperti waktu penerimaan rapor di SD dulu.

Tiba-tiba Ririn muncul, tanpa salam tanpa kata, dia menerobos masuk kamar. Brakk. Pintu kamar terbanting keras, tak lama tangisnya menggema di dinding-dinding rumah.

“Ririn gak bisa sekelas lagi sama kita,” kata Amnah setengah berbisik.

“Maksudnya, dia..dia..rasib?” Amnah mengangguk membuat perasaanku bertambah kacau. Kali ini Ririn bukan pemenang. Tangisnya terdengar begitu pilu, seperti gerimis untuk pertama kalinya di akhir musim panas.
* * *
Kosakata:
talkhisan: rangkuman pelajaran
min haitsu la yahtasib: tak terhitung
imtihan: ujian
jayyid/ jayyid jiddan: peringkat kelulusan "baik" / "baik sekali"
musaadah: sumbangan dlm bentuk sembako ato uang, biasanya org mesir di bln ramadhan berlomba2 ngasih musa'adah ke pelajar2
rasib: tidak lulus, artinya harus mengulang setahun di kelas yg sama
talaqqi: pengajian lgsung sama seorg syekh
muqarrar: diktat kuliah

(cerpen ini pernah dimuat di Buletin "INFORMATIKA" edisi 136/ september 2008)






4 komentar:

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

oh ini cerpen yg pernah dimuat itu. coba kirim ke media cetak lainnya biar semakin bertebaran karyanya.

Mayyadah mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Mayyadah mengatakan...

thanks kaka atas sarannya