Sabtu, 23 Juli 2011

Kelabu

Tuhan, aku punya keinginan, temukan aku dengan takdirku secepatnya!
Begitulah sebaris doa Andini di ujung salatnya. Airmatanya menitik pelan-pelan, jatuh hingga ke permukaan sajadah. Ia tak tahu, apakah hari-hari selanjutnya ia bisa menahan tangis dan berusaha tegar? Entahlah. Namun, seminggu telah berlalu, tapi kelabu itu masih begitu pekatnya. Nyaris menjadi hitam yang kemudian membutakan segalanya.

Bagaimana mungkin seorang laki-laki yang dulu begitu memujanya, mencintainya setulus hati, memperhatikannya setiap hari, bahkan mungkin setiap jam, kini dengan terang-terangan memeluk tubuh gadis lain? Kemana cinta yang diikrarkannya selama bertahun-tahun, segitu cepatkah ia berpaling?

Andini benar-benar tak habis pikir. Tak mengerti akan dunia laki-laki. Begitu mudahnya bilang cinta, begitu mudah pula berpindah cinta. Padahal, jika ia ingin mengingat-ingat, betapa beratnya ujian yang dihadapinya dahulu demi mempertahankan cinta mereka berdua. Andini dan Sayuti. Dua nama itu pernah mereka ukir, di sepasang gelang putih perak, kado ultah dari Sayuti untuknya.


Andini mengigit bibir. Sebentar-bentar matanya basah, tak kuasa ia menahannya. Saat ia bangun di Subuh hari, dadanya berdetak keras. Ia terkenang Sayuti, biasanya sms darinya datang membangunkannya. Saat ia duduk di meja makan, bersiap untuk sarapan, dadanya selalu sesak. Dulu ia tak terbiasa sarapan, tapi lelaki itulah yang selalu mengingatkannya untuk menjaga kesehatannya.

"Kamu usahain sarapan, Dek. Kamu kan banyak kegiatan setiap hari, kamu butuh banyak energi!" Nasehat Sayuti yang tiba-tiba muncul di hadapannya, menyodorkan segelas susu hangat untuk diminumnya.

Andini akhirnya tak jadi sarapan. Ia beranjak setelah sosok Sayuti menghilang dari imajinasinya. Andini mengambil sweater, meninggalkan kos, mencari udara segar di luar sana yang mungkin bisa sedikit mengurangi iklim negatif dalam hatinya.

Namun, bunga-bunga di sepanjang jalan, langit berawan, daun pohon yang berguguran, jalanan yang sedikit berdebu, serta bangku kayu di ujung belokan, berubah menjadi sosok Sayuti. Andini berhenti. Tergugu. Terisak. Ia tak akan pernah bisa melupakan cinta pertamanya itu. Ia tak akan pernah bisa tersenyum lagi setelah lelaki itu meninggalkannya. Ia tak akan bisa...

"Andini!" Teriakan itu mengagetkannya, ia menoleh dan melihat sebuah sedan hitam melaju kencang ke arahnya. Anehnya, ia tak merasa takut mati sama sekali. Andini tak menghindar. Ia pasrah. Bagaimana mungkin aku hidup dengan separuh jiwa? Pikirnya.

"Andini!" Sebelah tangannya ditarik seseorang. Tak cukup semenit, ia telah berdiri di atas trotoar dalam dekapan seorang perempuan. Ia mengangkat wajahnya, mendapati wajah lain yang begitu khawatir melihatnya.

"Be strong, Baby! I'm here!" Andini terkesiap mendengar kalimat itu. Ia meringis, tangan kakaknya tercengkram kuat di bahunya.

"Kamu tahu, saat mama meninggal, kamulah yang membuat aku bisa bertahan. Kamu bilang, aku harus kuat! Dan sekarang, kalau kamu ingin mati, sebaiknya kita bunuh diri bersama-sama!" Ucap Amirah, kakaknya menatap lekat-lekat wajahnya. Bibir Andini bergetar, airmatanya tumpah-ruah. Ia menjatuhkan diri ke pelukan perempuan yang membesarkannya selama ini.

"Maafin Dini, Kak. Dini ngga bisa lupain dia, sakit banget rasanya..."

"I know, Baby! Tapi sampe kamu nangis darah sekalipun, dunia tak akan berubah. Ia dan gadis itu akan terus berjalan meninggalkan kamu! Kamu berhak melanjutkan mimpi-mimpi kamu, meskipun tanpa dia. Kamu harus kuat, lebih kuat dari sebelumnya. Karena semua orang berhak untuk berbahagia dengan takdirnya masing-masing..."

Andini tertegun. Bodohnya ia, kenapa ia harus menangisi laki-laki yang bahkan mungkin tak pernah lagi mengingatnya! Alangkah bodohnya jika ia berlarut-larut dalam mimpi buruk, padahal ia masih begitu muda untuk memulai sebuah kehidupan yang lebih baik!

"Tapi kaka janji ya, kaka harus bantu aku. Aku ingin menjadi perempuan yang kuat," ujar Andini setelah tangisnya kering. Di hadapannya, Amirah tersenyum lega. Di belakang sana, sinar matahari perlahan-lahan menyusup masuk ke gumpalan awan. Langit merekah kembali.

"Bukan cuma aku yang akan bantu kamu. Teman-teman kamu, drama korea favorit kamu, spaghetti bolognaise buatan bibi, cafe depan kampus, fesbuk, Opera van Java, lagu-lagu Maher Zein, matahari, siang, malam, angin, dan semuanya pasti selalu ada buat kamu!"

Hari itu Andini hampir saja membunuh dirinya sendiri, tapi hari itu pula ia membangunkan dirinya kembali. Selalu ada harapan terang di balik kegelapan, sehingga kelabu itu pun akan menyingkir pelan-pelan.

8 komentar:

Ra-kun lari-laRIAN mengatakan...

membaca sambil minum kopi..
nikmat :)

Subi mengatakan...

sebuah titik penting akan arti hidup...

:D

terkadang memang begitu..
butuh seorang penerjemah bahasa Tuhan..
baik seorang kakak, guru, sahabat, bahkan benda mati yang saling berinteraksi pun menjadi sebuah titik poin penting dalam merubah paradigma berpikir kita,,

terkadang ada yang memang sadar, terkadang ada pula yang masih larut dalam kubangan masalah..

:D hahahahah

kata teman saya, semua ada waktunya..
bahkan mungkin kita bisa kutip ungkapan populer Almaghfurlah Almarhum Gus Dur, "Gitu aja kok repot..."


:D wkawka

it's interested...

Robita Asna mengatakan...

i like the detail, drama korea? hehehe...

nisa mengatakan...

pengen deh jadi andini yang bisa seneng cuma dengan opera van java, drama korea, cafe, siang, malam, dan matahari. bukan sejuta omongan orang yang menabahkan dia, atau rentetan keluhan dan penyesalan tiada akhir :D

cewe tuh emang unik ya X3

yulijannaini mengatakan...

wow... nice blog.. salam kenal.. :)

Mayyadah mengatakan...

@all: makasih yaa:)

M@brur Ji mengatakan...

ternyata dsini banyak bacaan menarik..:)

Rusni Harun mengatakan...

kisahnya bagus yaa,bisa ndak buatkan cerita untuk aku dengan pengalaman masa lalu...salam kenal yaa...dpat infonya dari Ifah Liwan