Minggu, 24 April 2011

Adikku Jatuh Cinta

ia pun menangis oleh alasan yang tak ia mengerti (Andrea Hirata, Padang Bulan)

Satu-satunya alasan yang tak mudah dimengerti manusia adalah cinta. Anehnya, cinta sanggup menusuk-nusuk retina, membuat airmata mengalir bak air bah, lalu menangis tanpa manusia tahu kenapa. Ia bisa saja membuat manusia tersenyum, terbahak-bahak, oleh geli dan bahagia yang tak ketahui sebabnya. Anehnya, saat ia sekuat mungkin dipungkiri, sejauh mungkin dihempaskan saat terbentur logika, ia tak akan pergi begitu saja. Selalu ada jejak yang tak terhapus, pelan tapi pasti ia pun mengabadi disana.

Seperti saat itu…

“Kak, aku bertemu seorang perempuan yang penuh pesona,” pekik adikku di saat usianya menginjak masa transisi menuju abege. Aku menatap matanya saat itu, membaca sikapnya yang baru. Oh, ia benar-benar telah jatuh cinta!

Aku penasaran, siapakah gadis yang membuatnya begitu? Adakah ia memiliki sorot mata yang cemerlang, secemerlang akal dan hatinya?


“Sini Kak, biar Kaka liat orangnya.” Aku beranjak mengikuti langkahnya. Ia kemudian duduk, menggerakkan mouse, lalu layar komputer pun menampilkan kotak-kotak. Ada delapan kotak, setiap kotak diisi oleh raut wajah yang sama, dengan posisi yang berbeda-beda. Ya ampun, bukan hanya wallpaper, tapi juga screen saver komputer adikku penuh dengan potret si gadis! Menakjubkan!

“Hmm, ia pasti anak yang cerdas,” nilaiku setelah menangkap sorot mata gadis tersebut. Adikku melonjak, “Iya Kak, ia juara satu waktu lomba cerdas cermat itu. Subhanalah, Kak, suaranya juga merdu banget pas ia tilawah.” Aku tersenyum, menyimak ocehan adikku, menikmati keterkesimaannya pada makhluk paling sempurna di dunia versi dirinya.

Adikku itu adalah anak yang cerdas. Dan aku yakin, penilaiannya itu tidak berlebihan. Kecerdasan dari seorang perempuan telah menghipnotisnya, sebagaimana ia sendiri menikmati kecerdasan miliknya. Lalu apakah itu berarti, ia harus mengatakan apa yang dirasakannya pada gadis itu?

“Aku takut, Kak. Sudah banyak yang mau sama dia, tapi ia menolak mentah-mentah.” Kulihat wajah adikku berubah kelabu. Di balik perasaanya yang meluap-luap. tersembul ketakutan yang sangat. Aku mengerti, sebab itu adalah pengalaman jatuh cintanya yang pertama. Dan ia pasti menginginkan sejarah tidak mencatat namanya sebagai laki-laki yang patah hati oleh cinta pertama. Meski sebenarnya, penolakan dari seorang perempuan tidak akan berpengaruh pada tinggi-rendahnya harga diri seorang lelaki.

“Kenapa tidak kau telpon saja, cukup bilang kalau kamu suka sama dia. Kalau kamu mengagumi dia,” saranku. Sebenarnya, waktu itu aku ingin sekali mengatakan pada adikku jika aku tak pernah setuju ia pacaran. Aku ingin ia membuang kuat-kuat perasaannya, menghapus foto-foto gadis itu dan memasukkannya bersama-sama ke recycle bin selamanya. Aku ingin ia mengganti wallpaper dan screensaver komputernya dengan gambar ikan-ikan berwarna emas,  bukit hijau, ataupun sketsa automotif favoritnya.

Tapi, aku tidak melakukan itu. Aku menyadari satu hal, pendewasaan dalam dirinya akan tumbuh dengan baik jika dimulai dari kemauannya sendiri. Bukan atas tekanan dariku, ataupun dari siapa-siapa. Aku ingin ia menikmati pengalaman hidupnya, mencicipi setiap momen terindah atau terpahit agar ia belajar dari sana kelak.

Kemudian di suatu siang ia benar-benar menelpon gadis itu, meski gadis itu mungkin saja tak mengenalnya. “Aaaa…kku…sssukkaaa kkaammuuu. Akkkuuuu ttunggu jawwwabannya!”

Hanya itu, tapi nafasnya memburu. Ia menutup telpon itu dengan cepat, lalu berlari seperti ada tsunami. Ia menyimpan ponselku, lalu berlari ke mesjid untuk menyembunyikan rasa tak karuan miliknya.

Saat ia datang kembali, jawaban gadis itu sudah berada di pikiranku. Aku membaca smsnya, mempelajari kalimatnya, menerjemahkan perasaannya, lalu selanjutnya adalah…

“Sabar ya Dik, ia menolakmu,” kataku memperlihatkan sms sepanjang dua layar itu. Kemudian ia tertawa lalu terdiam lalu tertawa kembali. “Kak, katanya, ia lebih mencintai Allah dan RasulNya.” Aku lantas tertawa, padahal aku sudah membacanya. Kuraih kepala adikku, mengacak-acak rambutnya lalu berkata, “ia ternyata tak secerdas yang kukira. Sudahlah, ia pasti menyesal kalau tahu kamu adalah anak yang paling diinginkan wanita manapun di dunia!”

Tapi tak semudah itu. Di suatu malam ia melompat dari bis tur, berlari ke asrama gadis itu, meski ia tak akan pernah melihatnya lagi. Saat dirinya beranjak dewasa, ia tak menyadari, bahwa cinta kanak-kanaknya itu kini telah menjadi bagian dari masa lalu. Dan yang lalu…biarlah sampai disitu. Bukan begitu, Dik?

25 komentar:

guru rusydi mengatakan...

saya penyuka sastra, tapi belum bisa bikin tulisan sastra. pengen belajar, tapi disuruh nulis doang ama guru tempet belajar. hmmmm

Awaluddin Jamal mengatakan...

keren tulisannya !!

cinta memang Dahsyat, bisa membuat segalanya berubah..

Mamisinga mengatakan...

wow sang adik jatuh cinta, sang kakak turut bersuka..

hehe jadi ikutan nyastra :p

Mila Said mengatakan...

semangat terus.. selama janur kuning belum berkibar... :p

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

cinta...akh,lagi lagi cinta..apa kabar nih? lama gak kemari.

Dhana/戴安娜 mengatakan...

Salam sahabat
Luar biasa isi cerpen sangat bermakna jadi ingin belajar mengulas cerpen terima kasih. Ya
Maaf telat

kira mengatakan...

wah, keren... aku paling g bisa kalo nulis cerita... :(

iLLa mengatakan...

ihik,, cerita jaman abege memang agak norak kalo diingat2 lagi, tapi hampir semua orang masih ingat sm pengalamannya itu, siapapun, trust me! hahah..

Bang Aswi mengatakan...

Teladan yang mencerdaskan ^_^

Gaphe mengatakan...

wah, masih kecil udah cinta-cintaan *plaak..

nggak sih, wajar kalo saling suka. yaa kalo ditolak, anggap aja pendewasaan diri.

nanti juga tahu koq mana yang seharusnya dan apa yang kudu dilakukan

Corat - Coret [Ria Nugroho] mengatakan...

cinta abg hehe jadi ingat waktu abg mang masih malu2 ma yg namanya cinta hehehe

mazhar mengatakan...

well,,,ini jelas sekali terinspirasi dari kisah adik penulis yg komen skrg ini,,,haha

aku yg skrg menolak jatuh cinta,,,lebih milih 'bangun cinta' saja deh,hahaha

Hanny mengatakan...

kisah nyata kah?

bintangair mengatakan...

setting nya bagus, bikin pembaca larut.
hmm dah lama banget ga ke blog mayyadah.
gimana keadaan mesir sekarang???

ali febriyanto mengatakan...

Ini beneran atau cuma sastra aja mbak???

Mayyadah mengatakan...

@guru rusydi: ayoo, belajaaar, maya juga msh belajar:)
@awal: makaciiii ^_^
@mami: heheh, bagus kok :D
@mila: hahahha, i like that!
@mbak fanny: iya, maya sehat2 aja, udah di indo skrg:)

Mayyadah mengatakan...

@mbak dana: makasih. santai aja mbak:)
@kira: tulisan kamu jg keren2 :)
@illa: iya, i trust uuuuu :P
@bang aswi: makasi. amin
@gaphe: tuuuullll :D
@ria: hehe, nostalgia yaaa:)
@dek zhar: wooww, tokoh utama cerpenku muncul disini!
@hanny: based on true story, tp cerpen :)
@wina: hei hei, makasi udah dtglagi :)
@febri: heheh, cerpen, sbgn aja yg nyata :P

Hendriawanz mengatakan...

Benar-benar cerita yang manis. Aku suka pada bagian tanggapan ketika tu adik ditolak.
Btw, iya nh, kemarin2 kebetulan juga sinyal sulit di Mentawai. Tapi tu tidak bisa dijadikan alasan kan..hehe :)

munir ardi mengatakan...

memang kadang cinta membuatakan mata dan perasaan , selamat malam apa kabar nih

Nova Miladyarti mengatakan...

waha...jd ingat adikku yg belum menunjukkan gejala tertarik terhadap perempuan padahal sudah kelas 2 SMA

subiajakokrepot... mengatakan...

:D wkkwkakwkakakkw

pengalaman yang sueru poko'e...
apalagi belajar dari pengalaman langsung.. :D wakwkakw

Mayyadah mengatakan...

@subi: opooooo :P numpang ngakak yaa
@hendriawan: iya iya , bukan alasan utk berpaling heheh
@pak munir: madeceng alhmdllh :)
@nova: waaahhh, unik tuh

harto mengatakan...

jatuh cinta... berjuta rasanya...
hmmm asyiiik juga niiih yang lg jatuh cinta
semoga sukses selalu n TETAP SEMANGAT

Claude C Kenni mengatakan...

Wahhh...cinta pertama...kenangan yg bener2 ga terlupakan.

*Langsung setel "Kisah Kasih di Sekolah - Chrisye"

Btw nice post, gua suka tulisan lu

Salam kenal

Ra-kun lari-laRIAN mengatakan...

adik jatuh cinta?
mbak ini ceritanya unik-unik ya ^^