Senin, 01 Februari 2010

The Unforgettable

Amanda adalah gadis yang yang tidak biasa. Wajahnya yang oriental begitu mempesona, siapapun tak akan bosan memandangnya. Prestasi akademisnya di atas rata-rata, jago lomba debat, kesayangan para dosen, dan teman diskusi yang menyenangkan. Dia juga dianugerahi keluarga yang lengkap, hangat dan terpandang. Meski semua keistimewaan itu dimilikinya, Amanda tetap menjadi seorang peri yang rendah hati.

Hari itu hujan kembali turun menyambut ulang tahunnya. Sama seperti ulang tahunnya setahun yang lalu. Dia berdiri di dekat jendela, menatap hujan, setelah kamarnya kembali sepi. Entah kenapa hujan selalu membuatnya merasa melankolis, seakan tetes hujan membasahi hingga ke hatinya. Mata Amanda yang bulat terlihat sendu, desiran halus tiba-tiba mengetarkan dadanya. Getar itu begitu dikenalnya, getaran yang pernah dialaminya sepuluh yang tahun lalu.

Jika setiap orang ditakdirkan jatuh cinta, Amanda bersyukur karena pernah merasakannya. Dirinya jatuh cinta, cinta yang manis namun menyisakan jejak pilu di hatinya. Cinta pertama seseorang memang tak selalu indah seperti yang gadis itu alami. Seorang lelaki, namun bukan karena senyum lembut ataupun kata-kata cerdas yang terlontar dari mulut lelaki itu yang membuat Amanda jatuh cinta. Sama sekali tak ada kaitannya dengan materi, semua itu hanya karena dirinya memang ditakdirkan untuk mencintai lelaki itu. Itu saja.

Namanya Mali. Nama yang singkat dan aneh, namun sesuai dengan karakter pemiliknya. Terkadang Mali nampak terlalu ramah kepada siapa saja, namun terkadang begitu tertutup, acuh tak acuh, dan terkesan begitu sulit ditebak. Mali memang menerima cintanya, melalui kalimatnya yang begitu sederhana: " Aku ingin membagi hidupku denganmu." Hanya itu, hanya kalimat itu yang terus dipegang oleh Amanda untuk setia meski jarak memisahkan dirinya dengan Mali. Mali melanjutkan kuliahnya di luar negeri, di seberang benua yang membuat Amanda selalu merasa rindu menatapnya kembali.


Amanda mencintai lelaki itu dengan sempurna. Dirinya tak pernah luput memberi kabar, lewat sms, berpuluh-puluh email, bahkan tak jarang rela menghabiskan uangnya untuk biaya telepon demi mendengar suara Mali. Tak sedikit arjuna berusaha memalingkan hatinya, tapi cintanya pada Mali begitu mendalam. Namun semua yang dilakukannya ternyata hanya membuatnya terluka. Mali jarang bahkan boleh dikatakan tak pernah menghubunginya duluan, puluhan sms dan puisinya yang tak terbalas, dan rindunya yang tak pernah berlabuh. Anehnya, cinta yang dimiliki Amanda tak pernah hilang, dirinya benar-benar tak bisa lari dari perasaannya itu.


Seringkali gadis itu merasa risih, dia takut Mali akan menjulukinya wanita agresif, tak sabaran, dan terlalu kekanak-kanakan. Saat jemarinya ingin mengetik sms, dia selalu terbayang akan hal itu, membuatnya hanya bisa menangis. Entah sudah berapa kali matanya basah, menahan rindu dan kegelisahan yang menusuk dadanya. Amanda adalah gadis yang tegar. Namun bukankah setangkai bunga juga membutuhkan kehangatan mentari? Bunga akan tetap layu meski hujan menyiramnya setiap hari. Setiap detik hatinya bertanya apakah Mali masih mencintainya, apakah lelaki itu juga merindukan dirinya? Pertanyaan-pertanyaan itu menumpuk, berakhir dengan kegalauan di benak Amanda

Saat dirinya benar-benar tak berdaya, Tuhan menjawab doanya. Tuhan mendengar seluruh kesahnya, melihat tangisnya, dan Tuhan teramat menyayangi hambanya yang baik hati itu. Seorang lelaki sederhana meminangnya, memintanya baik-baik untuk menjadi seorang bidadari dunia sekaligus surga. Berkali-kali dirinya berusaha menghubungi Mali, namun seakan Tuhan menutup jalannya. Nomer ponsel Mali tak pernah aktif atau mungkin lelaki itu telah menggantinya, dan musim telah berganti tanpa ada kabar dari lelaki itu

Amanda tak punya pilihan lain, dia menerima lamaran itu karena tak sanggup menolak lelaki sebaik Bram, belum lagi keluarganya telah begitu antusias melihatnya menikah.

"Sayang, kita udah nunggu di bawah, mobilnya siap berangkat tuh," ucap Bram yang mendadak muncul di belakangnya, memeluknya, dan bersandar mesra di punggungnya. Amanda berbalik dan memeluk suaminya erat-erat. Airmatanya jatuh begitu saja tanpa kuasa ditahannya

"Ada apa, Yang?"

"Hmm...gak papa..."

"Gak suka ya sama kadonya?" tanya Bram sambil menghapus tangisnya. Amanda menggeleng lalu tersenyum menenangkan suaminya. "Suka banget, Yang. Dinda cuma bahagia, ini adalah ultah Dinda yang pertama setelah kita menikah. Dinda bersyukur mendapatkan lelaki sebaik dan selembut Kakak

"Ya udah, kalo gitu Kak tunggu di mobil, ya," ujar Bram menutup kembali pintu kamar. Amanda terkulai, terduduk lemas di atas kasur. Bram seharusnya menjadi orang yang dicintainya, hatinya seharusnya hanya untuk Bram. Ah, andai lelaki pertama yang ditemuinya adalah Bram, mungkin Amanda tak perlu merasakan pahitnya cinta pertama. Mungkin dirinya tak akan pernah dihantui mimpi buruk masa lalu. Sepuluh tahun telah berlalu dengan cepat, Amanda selalu berdoa agar Tuhan meneguhkan hatinya hanya untuk suaminya

Pipi Amanda kembali basah. Suara Mali masih terdengar jelas di telinganya, sehari setelah dirinya menikah. Mali menelponnya, entah darimana kabar pernikahannya sampai kepada lelaki itu. Mungkin emailnya baru sempat terbaca oleh Mali dan itu sudah sangat terlambat. Amanda bahkan tak sanggup menahan isak lelaki itu

"Kalau ini memang salahku, maafkan aku. Aku bukan lelaki yang sempurna. Tapi perlu kamu tahu, di hatiku hanya ada namamu...Aku mencintaimu, Manda, merinduimu di setiap nafasku, meski tak mampu kunyatakan semua itu. Bukankah telah kukatakan, aku ingin membagi hidupku denganmu? Sekarang engkau adalah milik orang lain, namun selamanya perasaanku takkan berubah."

Suatu hari, entah itu kapan, semoga Mali mendapatkan wanita terbaik yang juga mencintainya. Bagaimanapun, masa lalu adalah waktu yang tak akan pernah kembali.



19 komentar:

AriE ONly mengatakan...

Aslkum mbak maya, dah siap ujian y?
ari do'ain semoga hasilnya bagus.. amin..

cerpennya mirip bener sama temen ari kak, bahkan bisa dibilang sama...
memang klo wanita sangat sulit melupakan cinta pertama, tapi bagi lelaki hal itu adalah bunga kecil yg menghiasi hidupnya..

yg pasti happy ending ^_^

AriE ONly mengatakan...

haaaaaaaa.... yg pasti ari pertamax....

Dhana/戴安娜 mengatakan...

salam sahabat
subhanAllah ungkapan yang membuat saya terharu...good luck ya

Elsa mengatakan...

yup, masa lalu tidak pernah kembali... emang menyesakkan dada. ngerti banget rasanya. hiks....

Jazz Mohamed mengatakan...

Mantap krenna ini tulisan^^
btw sy sudah pernah rasa cinta pertama waktu masih SD, cinta kedua SMP, cinta ketiga SMA, cinta keempat belum ada bagaimana caranya dapat di' wahahaha ^^

iLLa mengatakan...

wihh.. dalemmm..
sayah mw protes sm Mali, kemana saja dy selama ini? sms, telpon, atw apalah.. mengapa begitu susah untuk dibalas? Mana buktinya kalo dy menyayangi Amanda?
buktinya dy tau kalo sehari sebelumnya Amanda menikah, artinya selama ini Mali tau keberadaan Amanda, dan untuk alasan hanya dia dan Tuhan yg tau, dy tidak menghubungi balik Amanda. huff...
begitulah cinta, deritanya tiada akhir, hehehe... namanya jg fiksi yak :D

Mayyadah Or Maya mengatakan...

@arie: walalikumslm rie, i'm back^^
@mbak dhana:thanks mbak
@mbak elsa: hiks..pernah y ngalamin mbak?
@jazz: huuuuuuu...bukan meko org jazz ;P
@illa: thanks...tapi faktanya laki2 byk yg kyk gt lo, bukan fiksi^^

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

cerita yg bagus dan bikin saya terharu

pelangi anak mengatakan...

CERITANE BAGUS BANGET MBAK, KEEP ON WIRITNG DECH, BIAR KITA-KITA SEMAKIN RAJIN ZIARAH KE SUNGAI YANG ISTIMEWAINI...

anazkia mengatakan...

Ceritanya, sungguh menyentuh :) kisah sejatikah...??? *mau tahu ajah :D*

donadzku mengatakan...

cinta pertama memang sulit untuk dilupakan... tetapi kita hrs dapat melupakannya jika memang cinta itu tak dpt kita miliki...ceritanya bagus....sukses ya

Pekanbaru Riau mengatakan...

ASlmkm.. apa kabarnya nih...
jadi kangen.. da lama banget ga singgah disni... :D
keep spirit.. keep bloging.. :D

Alrezamittariq mengatakan...

seperti sang cerpenis bercerita katakan...bahwa cinta harus dikatakan....kalo nggak ya bakalan seperti ini deh....sakit...sakit....rasanya (lebay mode ON)...hehehe

Mayyadah Or Maya mengatakan...

@all: thanks^^
@anazkia: heheh..mo tau aja:P

secangkir teh dan sekerat roti mengatakan...

asslamualaikum wr wb.. sedang menyimak.. :)

munir ardi mengatakan...

maaf baru bisa datang lagi mbak maya, bagaimana hasil ujiannya

Mayyadah Or Maya mengatakan...

@secangkir teh" waalikumslm^^
@mas munir: alhamdulilah, doanya neh^^

alam hijau mengatakan...

A great work, Mbak!

inha mengatakan...

hhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhyyyyyyyyyyyyyy