Selasa, 01 September 2009

BLITZ JENDERAL*

Dua sisi tirai hitam perlahan terpisah, menghadirkan ruang di atas panggung. Dinding ruangan berwarna kuning pucat. Di dinding belakang terlihat gantungan peta aneh. Sekilas bentuknya tak jauh beda dengan peta Nusantara. Namun, pulau Jawa yang seharusnya paling kecil diantara pulau besar lainnya malah dibuat sebaliknya, bahkan lebih besar dari pulau Kalimantan. Anehnya lagi, hanya pulau Jawa yang nampak berwarna usang, seperti warna lumpur…

Di pojok ruangan dekat pintu masuk, berdiri kokoh sebuah tiang bendera. Kain bendera berwarna merah menyala dengan garis putih yang terhimpit di sisi paling bawah. Warna putih itu nyaris tidak terlihat dari jauh. Bendera yang tak kalah anehnya dengan peta tadi.

Kilauan lampu pentas membentuk sebuah kerucut panjang yang menerangi sesosok tubuh gempal. Wajahnya tertutup topeng hitam dengan kostum jenderal berbintang. Topeng hitam yang penuh guratan luka , topeng yang mengerikan tak ubahnya seperti wajah yang terbakar. Di tangan kirinya telah bertengger setia sebuah tongkat panjang berkepala naga. Di sisi lain, tangan kananya menopang dagu dengan kaki bersilang di atas singgasana berlapis emas.

Musik beraroma kesepian mengalun pelan mengiringi hening Sang Jenderal. Sayup terdengar cakapnya, entah pada tirai htam di belakangnya atau mungkin pada tongkat berkepala naga kesayangannya itu. Gumaman panang tanpa seorangpun tahu maknanya. Dia berbicara sperti mengingaunya orang-orang bermimpi buruk.
Beberapa detik kemudian genderang ditabuh nyaring memberi isyarat akan munculnya seorang “pemain baru”.


“Jenderal, saya datang membawa berita untukmu,” gema orang tersebut. Sebenarnya usianya masih begitu muda, namun sayangnya seragam perwira yang dikenakannya terlalu usang membuat wajahnya lebih tua. Badannya sedikit membungkuk di hadapan Sang jenderal, matanya tajam dan dingin sebagai isyarat jika dia menyimpan gelombang perih yang terpendam.

“Kau sudah tahu aturannya, bukan? Jika yang kau bawa itu adalah duka, pergilah tanpa berkata apa-apa! Tapi, jika itu sebaliknya, maka berbicaralah!” Vonis jenderal membuat pria itu terperangah. Musik latar tiba-tiba berubah menjadi irama biola yang menyayat hati. Sang perwira terdiam tanpa beranjak sedikitpun dari tempatnya. Dasar jenderal keparat! Keras kepala! Umpatnya dalam hati, susah-payah ia menahan emosi.

“Jenderal…” ujarnya membuka suara setelah berusaha mengatur nafasnya. “Hidup itu adalah pilihan, entah terang atau gelap. Aku tak mau munafik kalau berita yang aku bawa ini tak lain adalah sekumpulan kelam untukmu. Dan…bukankah kelam itu awal dari pendewasaan manusia?”

“Diaaaamm! Enyahlah dirimu bersama puisi picisanmu itu! Sekali lagi kuperingatkan, AKU adalah jenderalmu dan KAMU hanyalah budakku!” Geram Jenderal sambil mengetukkan tongkatnya ke lantai dengan keras. Suara genderang mendadak bertalu-talu seperti degup jantung Sang Perwira.

Sejenak tubuhnya kaku. Mulutnya bisu. Dua hatinya bertengkar kacau. Matanya terkatup rapat.
Katakan saja, tak ada yang perlu kau takutkan! Jika pun kau mati, jelak manusia akan memujamu sbagai periwra jujur…

Lidahnya semakin bergetar. Jangan! Hidupmu masih panjang untuk kau nikmati! Marah Sang Jenderal berarti akhir kehidupanmu…

Ah, tidak! Persetan dengan segala gemerlap dunia atau pangkat yang dijanjikannya padamu, sampai kapan kamu mau menjadi budak jenderal bangsat itu??!

“Kau belum beranjak juga, hah?!” Suara jenderal memecah sunyi, memotong pertentangan batinnya. Perwira itu menelan ludah pahit.

“Maafkan aku…tapi berita kelam ini tetap akan kukatakan padamu, Jenderal. Inilah saatnya kau harus mendengarnya!” sahut pria ceking itu bergetar. Akhirnya keberaniannya datang juga.

Tiba-tiba panggung berkelap-kelip. Gelap, terang, gelap, lalu tertutupi cahaya sorot yang semakin redup. Suara-suara instrument menyatu menjadi episode lagu ”perang”. Sang Jenderal bangkit dengan pongah, langkahnya yang berat membuat gema di mana-mana. Geraham perwira bergemelutuk namun wajahnya tetap garang menantang tubuh gempal di hadapannya.

“Sejak kapan kamu berani membantahku, hah?! Kau tak ubahnya anak kecil yang tak berdaya. Sepertinya kematian lebih pantas mejadi imbalanmu. Bunuh bocah ini!” perintah jenderal dengan suara bak halilintar. Musik bertalu-talu gaduh membuat suasana semakin gempar. Ruang seakan berdebar menanti siapa pembunuh yang kelak menabuh gendering kematian perwira itu. Namun tetap saja tak ada tanda pemain baru akan datang untuk melakonkan pembunuhan Sang Perwira.

“Hahaha…sepertinya kamu lupa, Jenderal, selama ini akulah yang menjadi “pembunuh”. Aku patuhi semua titahmu, kubunuh siapapun yang kau mau! Dan sekarang, untuk membunuhku, kamu tak punya siapa-siapa. Haha…” ejek pria itu dengan wajah yang berubah sangar. Entah iblis pemberontak mana yang hadir melalui sosoknya.

“Terkutuklah kau!” Jenderal maju beberapa depa, penuh amarah tongkatnya melayang ke udara. Kepala naga di ujung tongkat terbuka memancarkan kilau sebilah pedang. Itulah blitz  yang selama ini menjadi legenda. Konon, blitz itu telah membungkam ribuan jiwa pemberontak.

Cahaya pentas berubah biru lalu gelap sama sekali. Sunyi tanpa suara. Seratus mata tak berkedip menanti episode terakhir. Nafas-nafas tertahan saat lampu sorot kembali menyala. Tepuk tangan menggema bersama musik kematian. Tirai pentas mulai mengatup , meninggalkan sesosok tubuh gempal yang terkapar tanpa blitz.
* * *
(dimuat di buletin "INFORMATIKA" edisi 122/ Agustus 2007)

Note: kata “blitz” sebenarnya lebih banyak digunakan untuk istilah “serangan udara”  yang biasa terjadi dalam kondisi perang. Namun, kata tersebut kemudian berkembang sampai akhirnya dipakai pada istilah “cahaya kamera” karena silaunya diibaratkan seperti cahaya rudal dari udara.

8 komentar:

Ocim mengatakan...

nice story , salam kenal kk

Mayyadah mengatakan...

hehe,,wah the first comentator nih, tengkyuuuu^^

kang suroto mengatakan...

Tulisan yang menginspirasi sahabat.. sukses terus

NanLimo Mencari Cinta mengatakan...

wah... apa ga sakit mata tuh jenderal.... hehhhehe.....
salam kenal sobt....

Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang
Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang

Ardhiansyam mengatakan...

pilihan katanya keren, klop gitu, terus berkarya :)


salam

Mayyadah mengatakan...

arigatoo..semua,,insya Allah saya tak akan berhenti berkarya^^

bisnis online pemula mengatakan...

darah itu merah jendral,
Tunduk tertindas atau mati melawan

Mayyadah mengatakan...

wow..kereen kalimatnya,,,jadi teringat film2 perjuangan^^ kirain cuma tahu urusan bisnis heheh