Selasa, 10 November 2009

LUKISAN SENJA

Lukisan itu masih terpajang di tempat yang sama seperti lima tahun lalu. Nampak kesepian di dinding bercat ungu yang begitu setia ditempeli olehnya, di atas sebuah kursi goyang usang. Seorang kakek berkacamata sedang duduk di kursi goyang itu, menatap lukisan di hadapannya dengan perasaan yang selalu sama. Rasa sedih yang membuatnya semakin tua dan renta, nyaris putus asa. Lukisan seorang gadis berambut panjang yang hanya memperlihatkan punggungnya dengan latar senja di tepi danau itu telah membuatnya tak pernah tidur dengan lelap. Gadis itu adalah sosok wanita yang dicintainya, menghilang entah kemana sejak lima tahun lalu.

“Kek, istirahat yuk, udah jam dua belas,” bujuk seorang wanita muda sambil memijit bahu lelaki tua itu. Sang Kakek mendongak lalu tersenyum menatap cucunya yang selama ini menemani hari-harinya.

“Andai engkau adalah cucu kakek yang pertama…” gumamnya pelan membuat wanita bermata bulat itu terenyuh. Ucapan yang entah sudah berapa kali didengarnya, mengalir dari bibir pucat kakeknya setiap kali lukisan itu selesai dipandangnya.

“Kakek! Kenapa Kakek masih berharap dia kembali? Dia takkan pernah kembali, Kek, dia pasti udah punya dunianya sendiri!” protes Meisya, wanita muda itu sambil membantu kakeknya berdiri. “Kakek cuma buang-buang waktu mikirin dia! Kakek kan punya Meisya disini?” Lelaki yang rambutnya tinggal beberapa helai itu hanya terdiam, berjalan terbungkuk menuju pembaringannya. Meisya melepas kacamatanya, menaruhnya di meja kecil di samping tempat tidur. Pura-pura dia memejamkan mata berharap agar cucunya itu segera meninggalkan kamarnya.

“Kamu tak pernah mengerti…semua orang tak ada yang mengerti…” bisiknya sesaat setelah pintu tertutup. Airmata pelan-pelan turun di ujung matanya yang sipit membuatnya seakan tak percaya jika dirinya masih sanggup menangis di usianya sekarang. Hal yang paling ditakutkannya adalah mati dalam keadaan sepi, namun wanita di lukisan itu adalah ketakutannya yang lebih besar lagi. Dirinya takut jika waktu tak memberinya  cukup umur untuk bertemu kembali dengan wanita itu.

Nihal, pelukis sekaligus wanita di lukisan itu, adalah cucu pertama yang ditimangnya setelah menjadi seorang kakek. Nihal membuat dunianya berubah hijau kembali setelah sepuluh tahun lebih dirinya tak memanjakan seorang anak. Ibu Nihal meninggal setelah melahirkannya, sedangkan Ayahnya lebih banyak mengurus bisnisnya di luar negeri membuat Nihal lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya. Nihal terlahir dengan sebuah anugerah yang unik. Tangan kanannya tak seperti tangan orang lain pada umumnya, jemarinya bukan lima tetapi empat. Ya, empat!

“Kek, kenapa tangan Nihal tak sama dengan tangan Kakek?” Tanya cucunya itu ketika umurnya masih tujuh tahun. Dirinya masih ingat bagaimana perasaannya saat Nihal menanyakan hal itu. Sebagai seorang kakek yang begitu mencintai cucunya, dirinya tak ingin melukai hati anak itu dengan jawabannya yang tak memuaskan.

“Karena Nihal istimewa, makanya Tuhan ngasih tangan yang istimewa. Kakek berani bertaruh kalau Nihal akan jadi anak hebat dengan tangan itu!” Begitulah jawabannya kala itu, sebuah jawaban yang tak disangkanya akan menjadi sebuah mantra bagi cucunya. Nihal dengan bakat dan nalurinya yang lembut menjelma menjadi seorang pelukis muda berbakat. Setiap hari seluruh dunia seakan terkesima melihat perkembangan bakat Nihal, setiap saat orang-orang membicarakannya. Kuas seakan melekat pada keempat jarinya, mengikuti tarian imajinasinya. Alam takluk di tangan kanannya, pasrah diabadikan menjadi sebuah lukisan-lukisan menakjubkan, sama menakjubkan dengan keajaiban keempat jari tangan Nihal.

Ketenaran membuat dirinya terpaksa tersingkir jauh dari cucunya. Waktu berubah dengan cepat. Setelah beranjak dewasa, Nihal bukan lagi cucunya yang dulu dengan bebas bisa ditimang dan dimanjanya. Nihal telah lepas, terbang kemanapun dia mau, meninggalkan seorang lelaki tua yang semakin hari semakin jarang melihat sosoknya. Dirinya yang menua semakin kesepian sejak istrinya meninggal sebelum Meisya, cucu keduanya lahir ke dunia.

Suatu malam, hujan mengirim petir bersama kilat untuknya ketika menyambut kedatangan cucunya itu setelah berapa lama tak bertemu. Malam yang hingga sekarang masih membekas kuat di memorinya, malam lima tahun yang lalu. Nihal berdiri dengan tubuh basah, bergetar memeluknya. Matanya ingin sekali bertanya, namun tangan Nihal lebih dulu meraih tangannya lalu menempelkannya di atas perut wanita itu. Tahulah dirinya apa yang terjadi, mendadak amarah menggerogoti tulangnya, mengalir melalui darah di tubuhnya saat menyadari tubuh cucunya telah ternoda. Setelah itu sosok Nihal menghilang setelah mendengar serapahnya, serapah yang selalu membuatnya menyesal seumur hidup. Cinta berlebihan telah membuatnya kecewa berlebihan pula dan tanpa sadar mengusir cucucnya sendiri.

Selama lima tahun dirinya tak berhenti menanti dan mencari keberadaan Nihal. Lima tahun itu telah membuat tulang punggungnya tak lagi lurus, matanya tak bisa melihat tanpa kacamatanya, rambutnya berjatuhan, dan hatinya yang selalu diliputi kesedihan. Hanya ada sebuah lukisan yang menjadi obat kerinduannya. Lukisan terakhir cucunya itu didapatinya di studio Nihal yang sengaja ditinggalkan untuk dirinya sehari setalah malam naas itu. Di lukisan itu dirinya bisa menangkap makna kesedihan dari sosok Nihal yang membelakanginya. Sebuah lukisan  selamat tinggal…

Danau yang ada di lukisan itu adalah danau yang sering didatangi Nihal bersama dirinya. Danau itu adalah tempat Nihal menikmati kanvas dan kuasnya hingga senja tiba. Nihal akan berhenti melukis dan duduk bersamanya menghadap mentari senja yang keemasan.

“Kek, senja itu gak membosankan ya!” kata Nihal yang masih selalu terngiang di telinganya meski waktu begitu cepat berlalu.

“Menurut cucu kakek, senja itu melambangkan apa?”

“Hmm…senja itu kesannya seperti merindukan seseorang…”

“Rindu?”

“Iya, Kek, senja itu seperti selalu memanggil kita untuk tak bosan menikmatinya. Senja itu gak panas, tapi juga gak dingin, rasanya kita damai dipeluk oleh senja!”

“Kalau gitu kakek mau jadi senja itu, biar cucu kakek bisa terus dirindui oleh kakek! Kemanapun Nihal pergi, senja itu selalu merindukan Nihal untuk datang…”

Percakapan demi percakapan di masa lalu terus mengalun di kepala Sang Kakek. Malam kian larut bersama lamunan-lamunannya, bersama penantian akan dirinya menjadi senja yang berarti sekali lagi. Di atas sana, rembulan menatap pilu dengan sinarnya yang terhalang oleh dedaunan. Rembulan seakan tahu, apa yang kelak terjadi pada lelaki tua yang melawan waktu…
* * *

Kairo dingin, jelang setengah November




12 komentar:

mas doyok mengatakan...

ceritanya sangat abgs bener deh
aku suka cerpen jga ;)
novel juga
pusi juga

Putra Al-Maliki mengatakan...

kamu orang indon ka? ku sangkakan kamu orang melayu... =)

iLLa mengatakan...

so sad...:(

banyak yg agak bertentangan dengan sayah disini. Pertama, sy tidak pernah punya kakek. Eh punya, tapi bliau sudah meninggal sebelum smpat menikmati waktu bersamanya. Ada dipostinganku koq ;)
Kedua, saya koq ga bgitu suka senja yah? maab, tapi senja slalu membawa kerinduanku pada rumah. mungkin karena saya jauh dari rumah kali yak :D

Bdw, salut sama kemampuannya nge-cerpen. Sayah paling ga bisa bikin cerpen. Pernah cuba2 buat, ga bisa selesai2. ngambang trus, dan akhirnya ditinggalkan, hihihi...

AriE ONly mengatakan...

asiknya jd senja..selalu memanggil untuk merindukan dan tak pernah bosan...

tp lebih bahagia lagi jd diri sendiri seperti ari yg dgn sikap pelupanya ngebuat orang pgn nonjok muka ari..

he..he..

ribzah mengatakan...

Karya sendiri?

Aulawi Ahmad mengatakan...

Penyesalan memang selalu datang terlambat :) btw cerita yang bagus dan bermanfaat...salam kenal ya :)

Mayyadah mengatakan...

@ putra maliki: heheh,,,iya,org indonesia, indonesia kan melayu juga^^

@ Ribzah:YUPS, KARYA SENDIRI, 100% ORIGINAL MAYA^^

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

suka dg ungkapan memeluk senja. nice story.

munir ardi mengatakan...

cerita yang sangat menggugah perasaan mbak terimakasih udah share disini

yuzrond mengatakan...

karya yg indah.
udah brapa lama mbak di sana?

-[ Rizal Adha ]- mengatakan...

bagus, karya fantastis !

berhasil mengalur cerita

Kumpulan Lirik Lagu mengatakan...

Wah... bisa buat cerpen ya.... keren tuh... q pengen bisa tp g bs2... salut deh...