Sabtu, 23 Juli 2011

Kelabu

Tuhan, aku punya keinginan, temukan aku dengan takdirku secepatnya!
Begitulah sebaris doa Andini di ujung salatnya. Airmatanya menitik pelan-pelan, jatuh hingga ke permukaan sajadah. Ia tak tahu, apakah hari-hari selanjutnya ia bisa menahan tangis dan berusaha tegar? Entahlah. Namun, seminggu telah berlalu, tapi kelabu itu masih begitu pekatnya. Nyaris menjadi hitam yang kemudian membutakan segalanya.

Bagaimana mungkin seorang laki-laki yang dulu begitu memujanya, mencintainya setulus hati, memperhatikannya setiap hari, bahkan mungkin setiap jam, kini dengan terang-terangan memeluk tubuh gadis lain? Kemana cinta yang diikrarkannya selama bertahun-tahun, segitu cepatkah ia berpaling?

Andini benar-benar tak habis pikir. Tak mengerti akan dunia laki-laki. Begitu mudahnya bilang cinta, begitu mudah pula berpindah cinta. Padahal, jika ia ingin mengingat-ingat, betapa beratnya ujian yang dihadapinya dahulu demi mempertahankan cinta mereka berdua. Andini dan Sayuti. Dua nama itu pernah mereka ukir, di sepasang gelang putih perak, kado ultah dari Sayuti untuknya.