Andai pelangi hanya satu warna, apakah akan tetap indah di mata pengagumnya? Andai langit hanya menerima bintang tanpa ada bulan, mentari, atau awan, apakah tetap menjadi langit yang menakjubkan? Dan andai di dunia ini hanya ada manusia yang bermata sipit dan berkulit putih, apakah dunia ini tak berubah menjemukan? Di balik keanekaragaman warna manusia itu ada sebuah hikmah yang bernama “rahmat”. Perbedaan yang tidak membuat satu lingkaran ekslusif nan picik. Perbedaan yang tidak membuat manusia terkotak-kotakkan. Perbedaan yang dapat menyulap warna-warna menjadi rangkaian pelangi dinamika yang indah sebagaimana alam mengajarkan kita. Prularitas yang menyalurkan energi dan sinergi positif, menyempurnakan kekurangan dengan memetik kelebihan masing-masing, bukan malah sebaliknya.
Sebenarnya berbeda itu indah, teman! Bukankah manusia diciptakan bersuku-suku, berbeda ras dan wataknya agar muncul sikap terbuka untuk saling mengenal dan menjadi berbudaya? Itu adalah sebuah fitrah yang tak terbantahkan, mates!
Sayangnya, manusia dengan segala khilaf dan lemahnya sering terjebak ke dalam jurang egoisme, sukuisme dan embel-embelnya. Ketika amarah menjadi raja, manusia tak lebih dari seutas pita koyak tanpa warna. Persatuan hancur berantakan hanya dengan satu tikaman provokasi dan adu domba (dari manusia akhirnya jadi domba hina, aduh!).
Alam yang begitu beragam juga mengalami berbagai perubahan baik melalui bencana tak henti-henti ataupun evolusi, seperti halnya kondisi masyarakat majemuk yang tak sepi konflik. Kita hanya butuh kembali bercermin pada Sang Garuda yang selama ini sekedar pajangan di dinding-dinding. Lihatlah cengkramannya pada pita bertuliskan Bhineka Tunggal Ika itu! Cengkraman yang kuat dan tak mudah goyah. Jangan-jangan kita telah lupa kalau kepalanya menoleh ke kanan. Ke kanan dan bukan ke kiri! Ya, kita hanya perlu belajar untuk melihat sisi-sisi yang baik (positif) saja...semoga!



