Rabu, 17 Februari 2010

Dunia Cyber Vs Dunia Nyata

Meski dunia Blogger hanya sebatas dunia cyber, dunia non-realita, namun bagaimanapun kita yang berada di belakangnya adalah manusia-manusia nyata. Saya kadang bertanya-tanya, apakah dunia cyber ini juga membutuhkan pertanggungjawaban pelakunya?

Sejatinya dunia Maya hanyalah sebuah dunia kecil dibanding dunia nyata kita, namun yang terjadi, terkadang saya misalnya, terlalu asyik dalam dunia blogging, searching, browsing, dan tanpa saya sadari kewajiban dunia nyata saya terbengkalai.

Selain itu, tak jarang pula saya berfikir, apakah komentar2 yang saya tinggalkan di blog teman-teman tak membekaskan rasa kesal atau rasa tak enak bagi yang membacanya? Atau apakah pendapat saya atas tulisan orang lain malah membuat pemilik blog itu tersinggung? Atau adakah janji-janji berupa follow blog, pasang link, dan semisalnya yang pernah saya ucapkan lalu tak saya tepati?

Satu hal lagi yang saya ingin perbaiki, setidaknya untuk saat ini, saya ingin mengatur waktu dengan baik. Misalnya, saya berusaha beres-beres rumah, ngerjain tugas kuliah dulu, lalu setelah semua urusan proiritas selesai, saya akan refreshing ke dunia cyber. Contoh lainnya, saya akan meninggalkan layar PC jika orang-orang di dunia nyata memerlukan bantuan atau menuntut kewajiban saya.


Meski bukan dunia nyata, setidaknya, kita tetap menjaga image positif diri kita sebagaimana orang-orang mengenal kita di dunia real. Jika di dunia nyata kita berusaha mematuhi etika dan menunaikan hak serta kewajiban terhadap orang lain, lalu kenapa kita tidak membawa kebiasaan itu ke dunia cyber?


Nah, bagaimana dengan teman-teman? Apakah dunia cyber telah mengalihkan dunia nyata kalian?


                            



Senin, 15 Februari 2010

MATA AIR 100 JUTA

Saya bersyukur menjadi salah satu saksi sejarah perjalanan sebuah pesantren di atas bukit itu. Bukit yang dulunya belantara, tempat bercokolnya para dedemit, telah berubah menjadi satu surga menuntut ilmu. Bukit itu bernama Tonrong-e, sebagian santri menyebutnya sebagai Penjara Suci.

Saya tak akan bercerita panjang lebar tentang kenangan-kenangan bersamanya, atau tentang ribuan memori tertinggal tentangnya. Saya hanya akan bercerita satu hal, tentang satu keajaiban yang membuat airmata penderitaan mengering dan doa-doa panjang terkabul sudah. Keajaiban itu bernama Mata Air 100 Juta yang membuat banyak orang bertanya-tanya tentangnya.

Saya masih ingat, saat itu saya masih kecil sekali, dengan tangan yang hampir putus dan kaki telanjang yang mengejang, saya harus mengangkat air dari sumber yang jauh. Saya harus menempuh jalan berupa batu yang licin dan tajam untuk sampai ke lembah yang berada di bawah rumah. Keluarga saya tinggal di bukit sebelah atas, di depan mesjid, dimana air tak mampu mengalir sampai ke rumah. Sudah berkali-kali mesin dinamo air diganti karena terbakar, dan berkali-kali itu pula saya dan adik-adik terpaksa turun lembah, mengambil air sambil malu-malu karena di sumur itu yang ada hanya para santri putra. Kadang pula para santri yang membawa jerigen-jerigen air ke rumah ketika berangkat ke mesjid dan rasanya senang sekali melihat bak mandi di rumah kami penuh.

Rabu, 10 Februari 2010

Serunya Cairo International Book Fair

Hei, kali ini kita bakal jalan2 lagi! Yup, edisi ALL ABOUT EGYPT kali ini Maya dgn senang hati pengen sharing tentang pameran buku internasional di negeri Pharao. Setiap musim dingin menjelang musim semi, semua penerbit sebanyak 800 penerbit dari 31 negara berkumpul jadi satu di pameran buku ini. Dan pameran tahun ini adalah penyelenggaraan ke 42 kalinya! Wow! Brarti udah 42 tahun berturut2 Kairo ngadain program internasional kayak gini.

Berbeda dengan indonesia, kalo pameran buku disini dibuka oleh presidennya secara langsung. di indonesia, boro2 presiden, wapres aja jarang! Spesialnya lagi, pameran internasional Kairo ini mengkhususkan satu hari, biasanya sih hari pertama, buat orang2 VIP seperti para menteri, dan org2 istimewa lainnya. Jadi, biasanya sih, kalo mo caper ama org2 VIP ini, mahasiswa2 indo datang rame2 di hari pertama. Lumayan kan klo bisa tatap muka ama pejabat en artis (hahahah mo cari buku apa caper seh??).

Yuk, kita intip foto2nya^^

Nah, ini dia pintu masuknya, unik ya bentuknya. Karcisnya cuman satu pound perorg.

Maya gak tahu berapa luas lokasi keseluruhannya, pokoknya luaaaasss banget, kayak satu kampung gitu. Jadi tiap negara membuat satu rumah buat memamerkan produk mereka. Dua tiga penerbit aja Maya udah pegel en capek, padahal ada ratusan rumah dan hall raksasa di pameran ini. Setiap rumah penerbit pun suasana en dekorasinya pun beda2.



Ini Maya lagi di depan poster almarhum Nagub Mahfouz, peraih nobel sastra asli Mesir.

Suasana di lokasinya pun enak banget, bersih, ada taman buat istirahat, ada kereta mini buat keliling, dan tentu saja puluhan cafe buat isi perut^^. Gak seru dong kalo nyari buku sambil kelaparan heheh, tapi jgn cari penjual bakso ya!  Ada juga  rumah2 stand khusus untuk produk edukatif buat anak2. Gak heran kalo pengunjungnya pun rame banget, mulai dari nenek2 sampe balita pun ikut dibawa sama otunya.









Gak afdhol rasanya kalo kita gak ke rumah kebesaran Saudi Arabia, negara kaya itu. Tiap tahunnya Saudi benar2 mendandani stand mereka habis-habisan. Gak heran kalo Saudi selalu menjadi stand termewah dan mencolok. Di dalamnya kita bahkan bisa duduk nyaman di sofa-sofa empuk, karpet tebal, penghangat ruangan, dilengkapi LCD, dan resepsionisnya aja udah kayak di hotel2 gitu :D Gak percaya, check this out!


Oh ya, Maya juga sempat ngikutin workshop temu penerbit IKAPI yang setiap tahun memang datang ke pameran ini. Ada Garsindo, Mizan, Serambi, sygma, dan penerbit Indo lainnya^^

See U in ALL ABOUT EGYPT next time^^



Senin, 01 Februari 2010

The Unforgettable

Amanda adalah gadis yang yang tidak biasa. Wajahnya yang oriental begitu mempesona, siapapun tak akan bosan memandangnya. Prestasi akademisnya di atas rata-rata, jago lomba debat, kesayangan para dosen, dan teman diskusi yang menyenangkan. Dia juga dianugerahi keluarga yang lengkap, hangat dan terpandang. Meski semua keistimewaan itu dimilikinya, Amanda tetap menjadi seorang peri yang rendah hati.

Hari itu hujan kembali turun menyambut ulang tahunnya. Sama seperti ulang tahunnya setahun yang lalu. Dia berdiri di dekat jendela, menatap hujan, setelah kamarnya kembali sepi. Entah kenapa hujan selalu membuatnya merasa melankolis, seakan tetes hujan membasahi hingga ke hatinya. Mata Amanda yang bulat terlihat sendu, desiran halus tiba-tiba mengetarkan dadanya. Getar itu begitu dikenalnya, getaran yang pernah dialaminya sepuluh yang tahun lalu.

Jika setiap orang ditakdirkan jatuh cinta, Amanda bersyukur karena pernah merasakannya. Dirinya jatuh cinta, cinta yang manis namun menyisakan jejak pilu di hatinya. Cinta pertama seseorang memang tak selalu indah seperti yang gadis itu alami. Seorang lelaki, namun bukan karena senyum lembut ataupun kata-kata cerdas yang terlontar dari mulut lelaki itu yang membuat Amanda jatuh cinta. Sama sekali tak ada kaitannya dengan materi, semua itu hanya karena dirinya memang ditakdirkan untuk mencintai lelaki itu. Itu saja.